Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) Turun Langsung ke Ruang Perawatan
BEKASI, PUNGGAWANEWS – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tak hanya memantau dari jauh. Ia langsung masuk ke ruang-ruang perawatan RSUD Bekasi, menyapa satu per satu korban KRL, dan merogoh kocek pribadi untuk memastikan mereka punya bekal hidup selama masa pemulihan.
Kunjungan berlangsung hangat sekaligus mengharukan. Di setiap ranjang pasien, KDM bertanya langsung — dari mana asal mereka, kerja apa, berapa lama harus istirahat, dan siapa yang akan menafkahi keluarga selama mereka tak bisa bekerja.
Puluhan Korban KRL Dirawat, Tiga di Ruang VIP
Dari data yang disampaikan petugas rumah sakit, total korban yang dirawat mencapai 33 orang pada pagi hari. Sebagian sudah dipulangkan karena kondisi membaik. Saat kunjungan berlangsung, tersisa sekitar 22 pasien.
Tiga pasien ditempatkan di ruang VIP, satu di kelas 1, dan 10 orang di kelas 3. Tiga pasien lainnya masih berada di ICU karena kondisi kritis, termasuk satu yang menjalani operasi. Satu pasien dilaporkan meninggal dunia.
KDM menyampaikan duka cita langsung kepada keluarga korban yang meninggal. Ia menemui sang ayah dan mengucapkan belasungkawa secara pribadi.
Mayoritas Korban Adalah Pekerja Komuter Bekasi–Jakarta
Hampir semua korban yang ditemui KDM adalah pekerja harian yang setiap hari bolak-balik Bekasi–Jakarta menggunakan KRL. Mereka tinggal di Cikarang, Tambun, dan sekitar Bekasi, sementara tempat kerja tersebar di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Cilandak, hingga Cilandak.
Satu korban bekerja sebagai staf IT di kawasan Lebak Bulus. Seorang lainnya bekerja di rumah makan Padang di Tangerang — perantau asal Sumatera Barat yang pulang seminggu sekali ke Bekasi.
Ada juga cerita unik dari salah satu korban. Ia sebenarnya sudah sempat turun dari kereta saat KRL berhenti mendadak. Namun karena melihat sinyal hijau, ia naik kembali — dan justru terjebak dalam . KDM pun berkelakar ringan, “Makanya kalau sudah keluar, jangan balik lagi.”
Cedera Beragam: Ada yang Patah Tulang, Ada yang Harus Istirahat 3 Bulan
Jenis cedera yang dialami korban bervariasi. Sebagian mengalami memar dan luka sobek tanpa patah tulang. Beberapa lainnya mengalami patah tulang di bagian kaki atau pinggul yang membutuhkan waktu pemulihan tiga hingga enam bulan.
Dokter yang mendampingi menyampaikan bahwa pasien tanpa fraktur bisa istirahat sekitar dua hingga tiga minggu. Sementara yang mengalami patah tulang harus menjalani rehabilitasi lebih lama, bahkan bisa sampai tiga bulan sebelum bisa kembali bekerja.
Kondisi ini yang paling mengkhawatirkan KDM. Biaya pengobatan memang sudah ditanggung. Tapi kehidupan sehari-hari selama masa pemulihan — itulah yang menjadi beban tersendiri.
KDM Bagikan Bantuan Tunai Langsung ke Tangan Pasien
Di setiap pasien yang dikunjungi, KDM menitipkan uang tunai secara pribadi. Nominalnya bervariasi — mulai dari beberapa juta per orang — sebagai bekal selama tidak bisa bekerja.
“Kalau yang sakit itu mikirnya dua. Satu, biaya pengobatan — sudah dijamin. Dua, kehidupan di rumah. Nah, sekarang tinggal berpikir kesehatan karena kehidupannya sudah cukup,” ujar KDM kepada salah satu korban.
Total bantuan yang disebutkan dalam kunjungan mencapai angka signifikan. KDM juga menyebut akan mengalokasikan dana untuk RSUD tipe D yang ikut menampung korban — senilai 15 miliar rupiah — sementara RSUD utama mendapat alokasi 20 miliar rupiah untuk peningkatan fasilitas.
Lift Rusak, KDM Soroti Kondisi Fasilitas Rumah Sakit
Di sela kunjungan, KDM sempat menyoroti beberapa kondisi fasilitas rumah sakit. Lift yang rusak menjadi salah satu yang ia catat. Ia juga meminta agar kebersihan di sekitar rumah sakit lebih dijaga, termasuk menegur petugas kebersihan yang dinilai kurang sigap.
KDM menegaskan rumah sakit daerah harus menjaga standar kebersihan dan kenyamanan, mengingat tingginya minat masyarakat untuk berobat di fasilitas layanan publik ini.
KDM Berharap Semua Pasien Segera Pulih dan Kembali ke Keluarga
Di setiap kamar yang ia kunjungi, KDM selalu menutup dengan doa dan harapan agar pasien segera pulih. Ia bahkan secara langsung berkata kepada salah satu pasien, “Kalau saya berharap Ibu besok pulang ya. Jangan lama-lama di rumah sakit biar cepat sembuh.”
Kunjungan ini menjadi salah satu bentuk respons cepat pemerintah provinsi terhadap KRL yang menimpa warga Jawa Barat — khususnya para pekerja komuter yang setiap harinya mengandalkan transportasi umum untuk mencari nafkah.
FAQ
Apa yang dilakukan KDM saat mengunjungi korban KRL di RSUD Bekasi?
KDM menemui langsung pasien satu per satu, menanyakan kondisi dan kebutuhan mereka, lalu memberikan bantuan tunai pribadi sebagai bekal selama masa pemulihan.
Berapa lama korban KRL harus beristirahat?
Tergantung tingkat cedera. Pasien tanpa patah tulang cukup istirahat dua hingga tiga minggu. Korban dengan patah tulang membutuhkan pemulihan tiga hingga enam bulan.
Apakah biaya pengobatan korban KRL ditanggung?
Ya, biaya perawatan medis di rumah sakit sudah dijamin. KDM memberikan bantuan tunai tambahan khusus untuk biaya hidup sehari-hari selama korban tidak dapat bekerja.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.