BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Di saat kabar pemutusan hubungan kerja dan pemangkasan jam produksi mewarnai industri manufaktur nasional, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampil dengan data yang berbicara lain. Jawa Barat, tegasnya, masih berada dalam jalur positif soal ketenagakerjaan—dan angka-angka investasi semester pertama 2026 menjadi landasannya.

Realisasi investasi Jawa Barat sepanjang Januari hingga Juni 2026 tercatat mencapai Rp138,13 triliun. Dari nilai investasi sebesar itu, hampir 247 ribu orang berhasil terserap ke dunia kerja—tepatnya 246.887 tenaga kerja baru yang kini mengantongi penghasilan dari lapangan kerja yang lahir lewat arus modal masuk ke provinsi ini.

Dedi Mulyadi tidak menampik adanya gelombang PHK yang menghantam sebagian sektor manufaktur. Namun ia menegaskan bahwa jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan jauh lebih kecil dibandingkan mereka yang justru baru mendapatkan pekerjaan dari proyek-proyek investasi yang masuk ke Jawa Barat. Bagi Dedi, perbandingan ini bukan sekadar retorika—melainkan cerminan nyata dari kondisi ketenagakerjaan di lapangan.

Salah satu proyek yang dijadikan contoh konkret oleh Dedi adalah pembangunan pusat data atau data center di Purwakarta. Fasilitas berbasis teknologi informasi itu disebut telah menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja lokal. Ini menjadi sinyal bahwa Jawa Barat tidak hanya bertaruh pada industri padat karya konvensional, tetapi mulai merambah ke sektor teknologi yang diyakini lebih tahan terhadap guncangan ekonomi global.

Yang lebih mencolok adalah kehadiran pabrik kendaraan listrik BYD di Subang. Merek otomotif asal Tiongkok yang sedang agresif berekspansi di pasar Asia Tenggara ini memilih Subang sebagai basis produksinya di Indonesia. Hingga kini, fasilitas tersebut terus membuka lowongan dan disebut telah menciptakan hampir 9.000 peluang kerja—sebuah angka yang tidak kecil, bahkan untuk ukuran provinsi sebesar Jawa Barat sekalipun.



Follow Widget