Penilaian dalam lomba ini mencakup sejumlah aspek yang telah ditentukan panitia. Kreativitas dan estetika menjadi komponen dengan bobot tertinggi, yakni 35 persen. Aspek kekompakan dan baris-berbaris mendapat porsi 25 persen. Komponen lainnya melengkapi sistem penilaian yang dirancang untuk menilai kualitas penampilan secara menyeluruh, bukan hanya dari satu sisi semata.
Di balik kemeriahan yang direncanakan, panitia turut menetapkan sejumlah aturan yang wajib dipatuhi seluruh peserta. Larangan membawa benda tajam, bahan berbahaya, petasan, api, maupun senjata tajam dalam bentuk apa pun diberlakukan secara tegas. Keselamatan peserta dan penonton menjadi prioritas yang tidak bisa dikompromikan.
Selain itu, setiap peserta diwajibkan menjunjung tinggi etika, kesopanan, dan kesusilaan dalam setiap aspek penampilan. Unsur SARA maupun muatan politik praktis dilarang keras hadir dalam konsep karnaval. Panitia menegaskan bahwa karnaval ini adalah ruang budaya dan kreativitas, bukan arena untuk kepentingan kelompok tertentu.
Imbauan itu sejalan dengan semangat tema yang diusung — persatuan dan kebersamaan sebagai fondasi perayaan kemerdekaan yang sesungguhnya.
Karnaval Kemerdekaan HUT ke-81 RI tingkat Kabupaten Sinjai bukan sekadar agenda tahunan yang rutin digelar. Ia adalah cerminan dari bagaimana sebuah daerah merayakan kemerdekaannya dengan cara yang bermartabat, kreatif, dan inklusif. Ketika anak-anak PAUD berjalan dalam balutan pakaian adat, ketika para pelajar menampilkan kreasi daur ulang, ketika aparatur pemerintah berbaris bersama organisasi masyarakat — di situlah makna “Sinjai Bersatu” menjadi nyata, bukan sekadar slogan di atas spanduk.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.