Ada juga cerita tentang jalur berbeda—menikah dengan warga Taiwan dan berganti kewarganegaraan. Beberapa perempuan Indonesia yang telah menikah dengan pria Taiwan kini menjadi warga negara Taiwan. Tapi konsekuensinya nyata: untuk pulang ke Indonesia, mereka harus mengurus visa. Sesuatu yang dulu begitu mudah, kini memerlukan birokrasi tersendiri.

Di sudut lain, ada pula fenomena yang lebih kompleks: pernikahan kontrak. Seorang perempuan asal Palembang yang kini membuka usaha empek-empek di Taoyuan menjelaskan bahwa sebagian orang memanfaatkan jalur ini untuk mendapatkan kartu identitas Taiwan lebih cepat. Mereka membuat perjanjian dengan warga lokal yang bersedia “dinikahi” secara kontrak, biasanya tiga hingga empat tahun, dengan imbalan finansial. Setelah masa kontrak habis, keduanya berpisah—dan sang PMI mendapat status resmi.

“Ada juga yang akhirnya beneran jatuh cinta, terus menikah sungguhan,” ujarnya, tersenyum kecil.

Namun pemerintah Taiwan kini semakin memperketat jalur ini. Kasus pernikahan palsu yang marak membuat otoritas setempat mempersulit prosesnya.

Satu hal yang menarik: pemerintah Taiwan memberikan fasilitas belajar bahasa Mandarin gratis bagi PMI yang tidak pulang saat cuti. Sebuah kebijakan yang cukup progresif dan dimanfaatkan banyak pekerja migran untuk meningkatkan kemampuan mereka selama berada di Taiwan.



Follow Widget