Di lantai dua gedung yang sama, GBI Taiwan Cabang Chungli mengadakan ibadah rutin: Minggu pagi, Selasa malam, dan Jumat malam. Fasilitas ini bukan kemewahan—ini adalah kebutuhan rohani ribuan orang yang jauh dari keluarga dan butuh pegangan.

Hari kerja biasa, suasana jalan ini memang lengang. Sebagian besar warung hanya buka pada Sabtu, Minggu, atau hari libur nasional Taiwan. Wajar saja, karena mayoritas pelanggannya adalah pekerja pabrik yang hari liburnya jatuh di akhir pekan. Namun saat Sabtu tiba, jalanan ini berubah drastis—ramai, penuh warna, dan hiruk pikuk layaknya pasar kaget di Indonesia.

Seorang pekerja konstruksi asal Blitar, Jawa Timur, yang sudah setahun bekerja di Taoyuan bercerita tentang ritme hidupnya. Ia masuk kerja Sabtu dan Minggu, sehingga hari liburnya jatuh di hari biasa. Gaji pokok yang ia terima sebesar 28.000 NTD per bulan—jika dikonversi, sekitar Rp14 juta. Dengan lembur, penghasilannya bisa mencapai 55.000 NTD atau sekitar Rp27 juta sebulan.

Namun angka itu belum bersih. Dari gaji tersebut, ia masih harus membayar agen sekitar 2.000 NTD per bulan selama masa kontrak tiga tahun berjalan. Ditambah biaya mess sekitar 1.300 NTD, meski makan sudah ditanggung tempat kerja. Jadi penghasilan bersih yang bisa ditabung tidaklah semulus angka kasarnya.

Untuk bisa bekerja di sektor konstruksi, tidak diperlukan ijazah tinggi. Pendidikan minimal SD sudah cukup, asalkan data pribadi lengkap dan akurat. Satu kesalahan kecil di dokumen—nama tidak sesuai ijazah, nomor yang berbeda—bisa menyebabkan proses gagal. Kemampuan bahasa Mandarin dasar biasanya dilatih di PT (perusahaan pengerah tenaga kerja) di Indonesia sebelum berangkat, selama kurang lebih satu hingga tiga bulan.



Follow Widget