Di Jalan Belakang Stasiun Taoyuan, cerita serupa datang dari perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat, yang sudah sembilan tahun menjadi pekerja rumah tangga di sana. Gajinya saat ini 23.000 NTD per bulan—naik dari 17.000 NTD saat pertama kali tiba.
“Di Bima, kalau kerja rumah tangga, sebulan paling sejuta. Di sini sebulan bisa beli HP,” ujarnya dengan nada datar yang menyimpan banyak makna.
Ia mengaku betah. Bukan karena tidak rindu kampung, tetapi karena kebutuhan ekonomi keluarga di Indonesia memaksanya bertahan. Dari gajinya, ia bisa membeli tanah, membangun rumah, dan membiayai hidup keluarga yang ditinggalkan.
Di jalan yang sama, seorang ibu asal Karawang sudah 12 tahun di Taiwan sebagai pekerja rumah tangga. Dalam 12 tahun itu, ia hanya empat kali pulang ke Indonesia—rata-rata sekali setiap tiga tahun. Alasannya sederhana: tiket pesawat pulang-pergi mahal, dan biaya cuti terasa berat untuk ditanggung sendiri.
“Kangen? Ngantuk,” jawabnya sambil tertawa. “Soalnya bisa lewat HP.”
Jawaban yang terdengar ringan, namun menyimpan kerinduan yang tidak mudah diungkapkan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.