Ragam produk yang dipamerkan mencerminkan kekayaan pangan Indonesia: kopi, rempah-rempah, kacang-kacangan, confectionery, kerupuk, kakao olahan, hingga berbagai produk pangan olahan lainnya yang siap bersaing di pasar internasional.
Antusiasme pengunjung dan mitra dagang terhadap Paviliun Indonesia terbukti dari capaian hari pertama yang langsung menghasilkan MoU senilai 3,5 juta dolar AS. Dan ini baru permulaan — SIAL Shanghai masih berlangsung selama tiga hari ke depan, dengan potensi nilai transaksi yang diperkirakan akan terus bertambah.
“Capaian awal ini menjadi sinyal positif terhadap tingginya minat pasar internasional terhadap produk pangan Indonesia,” kata Roro Esti dengan optimistis.
Optimisme itu beralasan. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia secara konsisten memperkuat kehadiran produk pangannya di berbagai ajang internasional. SIAL Shanghai menjadi salah satu medan pembuktian paling bergengsi — dan Indonesia tampaknya siap memanfaatkan setiap peluang yang tersedia.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.