JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Dua jurnalis Republika tersandera di laut. Bukan karena membawa senjata, melainkan karena membawa kamera, obat-obatan, dan solidaritas untuk rakyat Gaza yang terkepung. Itulah situasi genting yang kini memaksa berbagai pihak di Indonesia bersuara keras menuntut kebebasan sembilan warga negara Indonesia yang ikut dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla.
Kapal misi kemanusiaan itu dihadang militer Israel di perairan internasional, Senin, 18 Mei 2025. Di antara mereka yang kini berada dalam genggaman pasukan Israel adalah Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, dua jurnalis Republika yang mengemban tugas jurnalistik sekaligus kemanusiaan di tengah blokade paling brutal yang pernah dialami Gaza dalam sejarah modern.
Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin tidak menyembunyikan amarahnya. Dalam pernyataan resmi yang dirilis hari yang sama, ia menegaskan bahwa tindakan intersepsi militer Israel terhadap armada sipil itu merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Baginya, tidak ada ruang tafsir lain: menyerang misi kemanusiaan adalah kejahatan, bukan tindakan pertahanan.
“Para relawan datang bukan membawa senjata, melainkan solidaritas, obat-obatan, bantuan logistik, dan suara nurani dunia,” tegas Andi. Pernyataan itu sekaligus menjawab narasi yang kerap digunakan Israel untuk membenarkan setiap penghentian paksa kapal-kapal menuju Gaza — bahwa mereka sedang menjalankan protokol keamanan.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.