Summarize the post with AI
Di kawasan Asia Tenggara, Vietnam masih memimpin dengan proyeksi pertumbuhan tertinggi sebesar 7,1 persen, disusul Indonesia di angka 5 persen, Malaysia 4,7 persen, Filipina 4,1 persen, dan Thailand yang hanya diperkirakan tumbuh 1,5 persen sepanjang 2026.
IMF menyusun proyeksi tersebut berdasarkan skenario dasar yang mengasumsikan konflik AS-Iran hanya berlangsung beberapa pekan ke depan, diikuti pemulihan bertahap hingga pertengahan 2026. Dengan asumsi itu, gangguan terhadap rantai produksi dan ekspor diperkirakan mereda dan kembali normal pada paruh kedua tahun ini. Namun lembaga itu mengingatkan, apabila konflik memanjang dan semakin intens, gambaran ekonomi global bisa jauh lebih suram dari skenario yang ada.
Secara keseluruhan, perekonomian dunia diprediksi hanya tumbuh 3,1 persen pada 2026, melambat dari 3,4 persen pada 2025. Harga energi global diperkirakan melonjak hingga 19 persen, sementara harga minyak mentah diproyeksikan naik 21,4 persen akibat gangguan produksi dan distribusi di Timur Tengah, dengan rata-rata menyentuh sekitar 82 dolar AS per barel.
Harga gas alam diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar, mengingat kendala teknis dalam memulihkan kapasitas produksi serta cadangan yang relatif tipis. Kenaikan harga energi juga merembet ke sektor pangan seiring dengan melonjaknya biaya pupuk, ongkos transportasi, dan terganggunya rantai logistik global. Di sisi lain, harga logam dasar maupun logam mulia diprediksi melanjutkan tren penguatan yang sudah berlangsung sejak 2025.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.