Ia menjabarkan tema tersebut ke dalam tiga pilar aksi nyata. Pertama, pengabdian kepada masyarakat — hadir dalam setiap kegiatan sosial dan kemanusiaan yang membutuhkan uluran tangan. Kedua, berkarya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi secara kreatif dan inovatif. Ketiga, menjaga alam sebagai bentuk tanggung jawab nyata terhadap generasi yang akan datang.
“Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia harus kita wujudkan secara nyata,” kata Andi Sudirman.
Gubernur Sulsel itu secara khusus mengajak seluruh jenjang organisasi Pramuka — dari Kwarda, Kwarcab, hingga Gugus Depan di seluruh pelosok Sulawesi Selatan — untuk konsisten menggelar gerakan nyata bagi lingkungan. Penanaman pohon, pembersihan pantai dan sungai, serta pemilahan sampah di lingkungan masing-masing menjadi agenda yang ia dorong agar tidak sekadar menjadi program musiman.
Pilihan Kabupaten Bone sebagai tuan rumah peringatan tingkat provinsi tahun ini pun membawa makna tersendiri. Sebagai salah satu kabupaten dengan sejarah panjang dan semangat kemandirian yang kuat, Bone menjadi latar yang tepat bagi lahirnya komitmen baru Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan.
Ribuan anggota Pramuka yang hadir hari itu pulang membawa lebih dari sekadar kenangan upacara. Mereka membawa pesan yang jelas: kepercayaan adalah segalanya, alam adalah tanggung jawab bersama, dan Indonesia Emas dimulai dari karakter yang dibangun hari ini.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.