Kabupaten Sinjai memang bukan daerah pertanian sembarangan. Wilayah ini menyimpan potensi lahan produktif yang cukup luas, namun kerap terganjal oleh infrastruktur pengairan yang tidak memadai. Dengan rehabilitasi ini, pemerintah berharap lahan-lahan yang sempat mengandalkan curah hujan semata bisa kembali berproduksi secara konsisten.

Dari sisi tata kelola, proyek ini berada di bawah koordinasi Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Sulsel. Kehadiran Kepala Dinas Astina Abbas di lokasi ground breaking menandakan bahwa pengerjaan akan dikawal langsung dari level provinsi — bukan sekadar diserahkan ke mekanisme daerah tanpa pengawasan.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Sinjai, Andi Ilham Abubakar, turut hadir mewakili jajaran pemerintah kabupaten. Kehadiran lintas level pemerintahan ini memberi pesan bahwa koordinasi antara provinsi dan kabupaten berjalan seiring — sebuah syarat penting agar proyek besar seperti ini tidak mandek di tengah jalan karena hambatan birokrasi.

Rehabilitasi irigasi di Sinjai ini menjadi bagian dari gambaran lebih besar: upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi ekonomi daerah. Sulsel dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, dan mempertahankan predikat itu membutuhkan kerja infrastruktur yang tidak pernah berhenti.

Proyek senilai Rp14 miliar di tiga titik Sinjai mungkin terdengar kecil dibanding skala kebutuhan irigasi Sulsel secara keseluruhan. Namun bagi petani di Biji Nangka dan sekitarnya, groundbreaking kemarin adalah awal dari perubahan nyata yang sudah lama ditunggu.



Follow Widget