Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Dedi sangat sadar bahwa kegagalan distribusi bantuan sering kali bukan soal jumlah dana, melainkan soal koordinasi di lapangan. Relawan yang datang tanpa bekal logistik justru bisa menjadi beban tambahan bagi masyarakat terdampak. “Jangan sampai tim relawan ke sana, logistiknya kosong, enggak ada makanan,” tegasnya.
Karena itu, Pemprov Jawa Barat tidak hanya mengirimkan uang dan barang, tetapi juga menurunkan tim relawan yang diklaim sudah terlatih dan berpengalaman menangani situasi darurat bencana. Kehadiran tim ini diharapkan memastikan penyaluran bantuan berjalan tertib, tepat sasaran, dan menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan — termasuk mereka yang berada di lokasi pengungsian maupun di desa-desa yang terisolir akibat dampak gempa.
Bagi Dedi Mulyadi, kunjungan ke NTT ini adalah cerminan dari prinsip yang selama ini ia pegang dalam menjalankan roda pemerintahan: memimpin dari depan, bukan dari balik meja. Kehadirannya secara fisik di lokasi bencana memberikan sinyal kuat bahwa Jawa Barat serius dalam merespons krisis kemanusiaan yang tengah melanda provinsi tetangga di bagian timur Indonesia.
Jawa Barat dan NTT memang dipisahkan oleh ratusan kilometer lautan dan daratan. Namun bencana tidak mengenal batas administrasi. Ketika satu daerah dilanda musibah, respons dari daerah lain menjadi ukuran nyata dari semangat persatuan yang selama ini hanya tertulis di atas kertas.
Masyarakat NTT, khususnya warga Manggarai dan Manggarai Timur, kini menantikan realisasi distribusi bantuan tersebut. Di pengungsian, kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, selimut, dan -obatan masih menjadi prioritas utama. Kondisi cuaca yang tidak menentu di wilayah pegunungan Flores menambah tantangan tersendiri bagi para relawan yang bekerja di lapangan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.