“Semoga bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat serta membantu memenuhi kebutuhan selama berada di lokasi pengungsian,” kata Sigit.

Kondisi di lapangan menuntut respons yang tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan. Pengungsian yang tersebar di 107 titik dengan karakteristik geografis NTT yang beragam—kepulauan, pegunungan, wilayah terpencil—menjadikan distribusi bantuan bukan perkara mudah. Setiap titik pengungsian memiliki kebutuhan yang berbeda, dan koordinasi menjadi kunci agar tidak ada warga yang terlewat.

Situasi di NTT mengingatkan kembali bahwa Indonesia, sebagai salah satu negara dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia, masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Gempa tidak mengenal jadwal. Ia datang tanpa peringatan dan pergi meninggalkan kehancuran yang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.

Yang bisa dilakukan adalah bergerak cepat ketika bencana terjadi, memastikan tidak ada korban yang dibiarkan berjuang sendirian. Dalam konteks itu, kehadiran 236 personel Polri di NTT, bersama ratusan ton bantuan logistik, adalah bentuk nyata dari komitmen tersebut.

Proses pemulihan di tujuh kabupaten terdampak masih akan memakan waktu. Namun selama pengungsi masih membutuhkan, Sigit memastikan, bantuan akan terus mengalir.



Follow Widget