Posko-posko ini bukan sekadar tenda bersimbol institusi. Sigit menjelaskan bahwa setiap posko berfungsi sebagai pusat pelayanan sekaligus ruang koordinasi untuk menginventarisasi kebutuhan yang terus berkembang di lapangan. Setiap laporan dari warga ditampung, dipilah, dan ditindaklanjuti.

Untuk memperkuat kapasitas penanganan di lapangan, Polri mengirimkan 236 personel bantuan Bawah Kendali Operasi atau BKO ke Polda NTT. Mereka bukan personel biasa. Pasukan yang dikirimkan memiliki kemampuan khusus yang mencakup SAR dan evakuasi, pelayanan kesehatan, anjing pelacak K9, trauma healing, pengamanan lokasi, hingga dukungan distribusi logistik.

Kehadiran tim trauma healing menjadi perhatian tersendiri. Di balik angka-angka korban yang tertulis dingin dalam laporan resmi, ada ribuan jiwa yang menanggung trauma mendalam. Kehilangan rumah, kehilangan orang-orang tercinta, dan ketidakpastian tentang hari esok adalah beban yang tidak cukup diatasi hanya dengan makanan dan -obatan.

Di front logistik, gerak Polri juga tidak kalah masif. Secara keseluruhan, institusi ini telah menyalurkan 247,66 ton bantuan logistik dan kemanusiaan. Pasokan itu berasal dari Mabes Polri dan lima Polda jajaran yang turut bergerak merespons bencana.

Bantuan yang dikirimkan mencakup berbagai kebutuhan mendasar: bahan makanan, pakaian, perlengkapan pengungsian, -obatan, dan berbagai kebutuhan dasar lainnya. Angka 247 ton lebih itu bukan sekadar statistik—ia merepresentasikan kebutuhan nyata puluhan ribu manusia yang hidupnya tiba-tiba terbalik dalam sekejap.



Follow Widget