JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Ada yang janggal dalam ekosistem Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukan soal menu atau antrean ompreng — melainkan soal yayasan yang diam-diam memungut uang dari mitra, padahal tak pernah sekalipun turun ke dapur.
Badan Gizi Nasional (BGN) kini tengah memproses ulang perjanjian kerja sama dengan seluruh yayasan dan mitra pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di penjuru Indonesia. Di tengah proses registrasi itu, sebuah temuan mengejutkan mencuat ke permukaan.
Sejumlah yayasan yang seharusnya menjadi payung pembinaan dapur SPPG justru tak melakukan apa-apa. Tidak ada keterlibatan dalam operasional, tidak ada pembinaan, tidak ada kontribusi nyata terhadap jalannya dapur. Namun mereka tetap meminta mitra untuk menyetor sejumlah uang — dihitung per ompreng yang disalurkan.
Kepala BGN Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, tak memilih kata-kata halus saat menggambarkan situasi ini. Berbicara di Jakarta pada 2 Oktober lalu, ia menyebut terang-terangan bahwa ada mitra yang telah bersusah payah membangun dapur, lalu dipaksa menyetor dana kepada yayasan yang tidak memberikan kontribusi apa pun terhadap jalannya operasional.
Praktik semacam ini bukan sekadar tidak adil — ia berpotensi melukai program secara sistemik. Ketika mitra harus menanggung beban setoran tambahan, ruang untuk menghadirkan makanan berkualitas bagi penerima manfaat ikut menyempit. Anggaran yang seharusnya sepenuhnya dikonversi menjadi gizi di piring anak-anak, sebagian justru mengalir ke yayasan yang bersikap pasif.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.