Pendekatan ini relevan dengan kondisi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Deforestasi, perubahan iklim, dan menurunnya kualitas ekosistem bukan lagi isu global yang terasa jauh. Di tingkat lokal seperti Sinjai, dampaknya sudah mulai terasa — dan respons dari level komunitas menjadi bagian penting dari solusi.

Weekend in Nature hadir sebagai ruang edukasi yang tidak menggurui. Program ini mengajak peserta untuk merasakan langsung nilai ekologis dari kawasan hijau seperti Tahura Abdul Lathief, bukan hanya menerima ceramah tentang pentingnya lingkungan.

Kegiatan berlangsung selama dua hari penuh, memberi cukup waktu bagi peserta untuk benar-benar menyerap suasana alam dan meresapi pesan yang ingin disampaikan. Format weekend dipilih karena memberikan jeda dari rutinitas kerja tanpa menuntut pengorbanan waktu yang terlalu besar dari masyarakat.

Konsep kampanye yang diusung DLHK Sinjai ini juga mencerminkan pergeseran pendekatan dalam komunikasi lingkungan. Alih-alih menyampaikan data dan angka yang sering kali sulit dicerna publik umum, Weekend in Nature menyentuh sisi emosional — mengundang orang untuk merasakan alam, bukan hanya memahaminya secara kognitif.

Ketika seseorang berdiri di tengah hutan, mendengar suara air mengalir dan angin menerobos pepohonan, kepedulian terhadap lingkungan tidak perlu lagi dijelaskan panjang lebar. Ia dengan sendirinya.



Follow Widget