Daulah Islamiyah merupakan kelompok yang selama ini dikenal sebagai salah satu jaringan teror paling aktif di Indonesia, dengan jejak kekerasan yang tersebar di berbagai daerah dalam satu dekade terakhir. Penangkapan ini menjadi sinyal bahwa jaringan tersebut belum sepenuhnya lumpuh.

Hasil penyidikan sementara mengungkap bahwa peran masing-masing tersangka tidaklah seragam. Ada yang diduga bertugas mengkonsolidasikan jaringan, ada pula yang terlibat dalam kegiatan pelatihan, penyebaran propaganda, hingga rekrutmen anggota baru—baik secara langsung maupun melalui kanal media sosial.

Temuan soal rekrutmen digital patut dicermati. Penggunaan media sosial sebagai alat propaganda dan penarikan anggota mencerminkan adaptasi kelompok-kelompok radikal terhadap perkembangan teknologi, sebuah tantangan yang kian rumit bagi aparat keamanan.

Yang tak kalah mengkhawatirkan, Densus 88 juga menemukan indikasi adanya kegiatan pelatihan militer dalam kelompok ini. Pelatihan itu disebut mencakup latihan fisik hingga latihan menembak—aktivitas yang secara jelas mengarah pada persiapan aksi kekerasan.

“Dari latihan fisik, menembak. Kasus masih terus dikembangkan,” jelas Mayndra, memberi sinyal bahwa penyelidikan belum berhenti di sini.



Follow Widget