BANDUNG, PUNGGAWANEWS – Dedi Mulyadi tidak datang sebagai gubernur semata. Di hadapan peserta  Musyawarah Wilayah (Muswil) VII KAHMI Jawa Barat di Grand Asrilia Hotel Convention, Kota Bandung, Jumat (7/8/2026) malam., ia membuka pidatonya dengan pengakuan mengejutkan: dirinya menyebut diri sebagai anggota HMI paling “aneh” yang pernah ada — dan para hadirin pun tergelak.

Gubernur Jawa Barat itu mengisahkan bagaimana ia pertama kali mengenal Himpunan Mahasiswa Islam bukan dari bangku kuliah atau ajakan senior, melainkan dari sebuah stiker di motor tukang ojek. Dari situ, perjalanan panjang seorang Dedi Mulyadi bersama HMI dimulai.

Cerita itu bukan sekadar nostalgia. Di balik humor yang mengalir ringan, tersimpan pesan yang tajam tentang ideologi, kepemimpinan, dan masa depan bangsa.

Dedi mengisahkan bagaimana di Purwakarta, pada awal 1990-an, ia berinisiatif sendiri mendirikan organisasi mahasiswa Islam tanpa benar-benar memahami HMI. Ia belajar membuat proposal dari nol, datang ke Wanayasa menemui sosok yang ia sebut “Uda Herman” berkali-kali tanpa pernah diterima. Tujuh kali ia datang, tujuh kali pula ia pulang dengan tangan kosong.

Hingga akhirnya ia diterima — dan langsung dimarahi.

Uda Herman, yang kini dikenang Dedi sebagai tokoh yang sangat sibuk menerima tamu pencari sumbangan, menegurnya keras karena tidak membuat laporan pertanggungjawaban setelah menggelar kegiatan. Rp 1 juta yang diberikan pada tahun 1991 itu, kata Dedi, adalah jumlah yang luar biasa besar di masa itu.

Bagi Dedi, teguran itu bukan penghinaan. Itu adalah pelajaran terbaik tentang tanggung jawab yang tidak ia dapatkan dari ruang kuliah mana pun.

Di LK1 yang ia ikuti, Dedi mengaku tidak mengikuti satupun materi secara serius. Ia lebih banyak berkeliling sebagai panitia, menyiapkan konsumsi, mengurus ini dan itu. Satu-satunya sesi yang ia ikuti adalah teknik persidangan — dan itupun hanya karena ia suka berdebat dan menunjuk-nunjuk.

Namun sepekan setelah LK1, ia sudah diundang mengikuti LK2 di Tasikmalaya. Sebulan kemudian, LK3 di Ciputat. Dan tanpa pernah benar-benar duduk manis di pelatihan LK1, ia menjadi instruktur NIK.

Perjalanan yang tidak lazim itu justru membentuknya menjadi pemimpin yang berbeda.

Dedi kemudian berbicara tentang bagaimana pengalaman organisasi di HMI mengajarkannya cara meyakinkan orang secara sistematis. Ketika maju sebagai wakil bupati pada 2004, ia mampu membawa 27 dari 45 anggota dewan ke pihaknya setelah delapan kali pertemuan panjang dan meyakinkan.

Bukan dengan uang, bukan dengan janji. Dengan argumen.

Ia mengakui bahwa banyak orang menganggapnya bukan “tampang” politisi saat itu. Cara bicaranya, semangatnya, gaya berpolitiknya lebih mirip aktivis mahasiswa Sunda daripada calon pejabat. Namun itulah yang ia jadikan kekuatan: pemikiran Cak Nur tentang Islam, modernitas, dan ke-Indonesiaan menjadi kompas yang ia pegang sejak era 1970-an.

Di bagian yang lebih serius, Dedi berbicara tentang krisis identitas bangsa. Menurutnya, selama 80 tahun merdeka, Indonesia gagal menerjemahkan nilai-nilai luhur leluhur Nusantara ke dalam sistem tata kelola yang nyata. Nilai-nilai seperti tritangtu dibuana dari tradisi Sunda, atau sangkan paraning dumadi dari Jawa, adalah fondasi peradaban yang ditinggalkan begitu saja.

Akibatnya, eksploitasi sumber daya alam terjadi tanpa henti, kekayaan mengalir ke pusat sementara daerah pertambangan hancur. Akademisi menghasilkan gelar tanpa menghasilkan produk nyata bagi masyarakat. Kampus-kampus berdiri megah, sementara lingkungan sekitarnya semrawut.

Dedi tidak segan-segan mengkritik dunia akademik. Banyak sarjana, katanya, lulus secara administratif tanpa kejujuran dan keberanian menegakkan nilai kebenaran. Toga dan disertasi hanya jadi pajangan bila tidak menghasilkan perubahan nyata di luar tembok kampus.

Ia lalu berbicara tentang relevansi HMI di era digital. Menurutnya, HMI terlalu lama berbicara dalam bahasa langit — bahasa akademik yang tinggi dan elitis — tanpa mampu menyentuh realita desa. Organisasi yang besar harus mampu bicara dengan bahasa bumi, bahasa yang dipahami Mak Icih di warung sebelah.

Justru karena itu, ia menyambut gembira banyak alumni HMI yang kini menjadi kepala desa. Baginya, desa adalah tempat karier politik sesungguhnya dimulai — karena di sanalah jaringan nyata dibangun, bukan di ruang seminar atau sidang pleno.

Di era algoritma ini, lanjut Dedi, dominasi bukan lagi soal siapa yang menguasai organisasi. Dominasi ada di tangan mereka yang konsisten menyuarakan nilai-nilai tanpa henti di ruang digital. Algoritma, katanya, akan selalu mencari mereka yang teguh dan konsisten — bukan mereka yang hanya viral sesaat.

Ia menyinggung lagu Indung yang dikumandangkan di awal acara — lagu ciptaannya sendiri yang lahir pada 2004, saat ibunya wafat. Lagu itu selalu ia bawa ke mana pun ia pergi, sebagai pengingat bahwa semangat seorang ibu adalah semangat perubahan yang paling tulus.

Di penghujung pidatonya, Dedi menyampaikan pesan yang paling tegas dan paling diingat dari seluruh rangkaian sambutannya.

KAHMI, tegasnya, bukan panggung politik praktis. Siapa pun yang berharap mendapat keuntungan elektoral dari KAHMI, ia salah alamat. Setiap individu membawa kepentingannya sendiri dalam memilih partai atau pasangan politik — dan itu bukan urusan KAHMI.

KAHMI, kata Dedi, adalah ruang untuk membicarakan kepentingan bangsa, nilai-nilai universal, dan peradaban jangka panjang. Bukan soal siapa mendukung siapa di pemilu berikutnya.

“Soal kekuasaan, kalau memang sudah takdir, tidak ada yang bisa menolak atau memaksanya karena Allah yang memegang segalanya,” ujarnya, disambut tepuk tangan.

Ia menutup dengan harapan agar Muswil KAHMI kali ini melahirkan presidium wilayah yang benar-benar berjiwa pejuang, bukan sekadar penghuni jabatan. Dan agar narasi yang disebarkan ke ruang media sosial adalah narasi nilai dan peradaban — bukan sekadar konten pendek yang lewat tanpa makna.

FAQ

Apa yang dimaksud Dedi Mulyadi dengan menyebut dirinya anggota HMI paling “aneh”?

Dedi mengaku ia mendirikan organisasi mahasiswa Islam di Purwakarta tanpa benar-benar memahami HMI terlebih dahulu, tidak mengikuti LK1 dengan serius, namun langsung melompat ke LK2, LK3, dan bahkan menjadi instruktur NIK — sebuah perjalanan yang sangat tidak lazim.

Apa pesan utama Dedi Mulyadi dalam Muswil KAHMI?

Pesan utamanya adalah KAHMI tidak boleh dijadikan kendaraan politik praktis. KAHMI harus tetap menjadi ruang diskusi nilai, peradaban, dan kepentingan bangsa jangka panjang, bukan ajang mobilisasi dukungan elektoral.

Mengapa Dedi Mulyadi mendorong alumni HMI untuk menjadi kepala desa?

Menurutnya, HMI terlalu lama berbicara dalam bahasa elitis dan akademik yang tidak menyentuh rakyat akar rumput. Menjadi kepala desa adalah cara nyata untuk membangun jaringan dan mengubah peradaban dari bawah, bukan hanya dari atas.



Follow Widget