“Jadi, begini ya. Saya pikir Pak Dedi Mulyadi ini hanya berguyon. Jangan salah loh, ya, bisa saja soal sayembara itu guyonan. Maka, media jangan anggap serius,” kata Pigai.

Namun Pigai menekankan, jika sayembara itu benar-benar serius, ada potensi bahaya yang nyata: warga sipil yang tidak terlatih bisa saja melakukan kekerasan fisik terhadap orang yang belum tentu bersalah.

Kekhawatiran serupa juga dipicu oleh kasus di Bali — seorang warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng yang meninggal setelah dikeroyok warga karena diduga mencuri ayam. Kasus itu menjadi latar belakang mengapa isu vigilantisme kembali mencuat ke permukaan.

Yusril pun ikut mengingatkan Dedi dengan santun. “Kalau saya boleh menyampaikan nasihat dengan segala hormat kepada Pak Gubernur Jawa Barat, sebaiknya jangan membuka sayembara seperti itu karena dikhawatirkan akan mendorong masyarakat melakukan tindakan main hakim sendiri,” tutur Yusril.

Meski dikritik dari dua penjuru, Dedi tampaknya tidak mengubah sikapnya. Baginya, membiarkan masyarakat terus menjadi korban tanpa ada perlawanan adalah bentuk kegagalan negara yang jauh lebih nyata. Program ini, menurutnya, adalah cara untuk mengembalikan keberanian warga yang selama ini direnggut oleh rasa takut.



Follow Widget