MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – New York dikenal sebagai salah satu kota dengan biaya hidup tinggi. Tekanan itu tidak hanya datang dari harga rumah, transportasi, atau layanan kesehatan, tetapi juga dari belanja bahan makanan yang harus dilakukan setiap minggu. Telur, susu, buah, sayuran, daging, ikan, dan bahan dapur lain semakin menguras pendapatan warga.

Sejak 2019, biaya belanja bahan makanan di Amerika Serikat tercatat meningkat sekitar 33 persen. Pendapatan banyak keluarga tidak bertambah secepat kenaikan harga, sehingga uang yang dikeluarkan semakin besar meskipun isi keranjang belanja semakin sedikit. Pemerintah Kota New York kemudian melihat mahalnya pangan bukan sekadar masalah pribadi setiap rumah tangga, tetapi persoalan biaya hidup yang membutuhkan campur tangan pemerintah.

Dari kondisi tersebut lahir program NYC Groceries, A Recipe for Affordability. Pemerintah kota merencanakan lima supermarket, masing-masing satu di Bronx, Manhattan, Brooklyn, Queens, dan Staten Island. Toko-toko ini akan terbuka untuk seluruh warga tanpa pemeriksaan pendapatan.

Namun, program tersebut belum beroperasi. Toko pertama ditargetkan buka di Hunts Point, Bronx, pada akhir 2027, sedangkan lokasi berikutnya disiapkan di La Marqueta, East Harlem. Tiga lokasi lain masih melalui proses pemilihan, sehingga keberhasilan program baru dapat dinilai setelah toko benar-benar berjalan.

Walaupun masih dalam tahap persiapan, arah kebijakannya sudah terlihat jelas. Pemerintah tidak sekadar ingin membuka toko baru, tetapi membangun tempat belanja yang fokus menurunkan pengeluaran pangan masyarakat. Kelompok barang yang diprioritaskan meliputi buah, sayuran, daging, makanan laut, ayam, telur, susu, roti, makanan beku, dan berbagai kebutuhan dapur.

Harga barang-barang inti tersebut ditargetkan rata-rata sekitar 30 persen lebih murah dibandingkan harga pasar yang menjadi acuan. Pemerintah memperkirakan total tagihan belanja keluarga dapat berkurang sekitar 15 persen. Penghematannya diproyeksikan mencapai rata-rata 90 dolar AS setiap bulan atau sekitar 1.000 dolar AS dalam setahun.

Harga yang lebih rendah itu tidak muncul karena pedagang atau pemasok dipaksa menanggung kerugian sendiri. Pemerintah Kota New York ikut mengurangi biaya dengan menyediakan lokasi, menanggung sewa dan pajak properti, serta membiayai pembangunan awal. Anggaran modal sekitar 70 juta dolar AS disiapkan untuk membangun dan menyiapkan lima toko tersebut.

Sementara itu, kegiatan sehari-hari tetap akan diserahkan kepada operator ritel berpengalaman. Pengelola akan mengurus pemasok, stok barang, tenaga kerja, keamanan pangan, dan pelayanan pembeli. Pemerintah menyediakan aset dan dukungan biaya, sekaligus menentukan standar harga dan tujuan sosial yang harus dicapai.

Model itu menunjukkan bahwa supermarket dipakai sebagai alat kebijakan, bukan sekadar usaha dagang milik pemerintah. Ukuran keberhasilannya bukan hanya omzet, jumlah transaksi, atau banyaknya produk yang terjual. Ukurannya adalah seberapa jauh kehadiran toko dapat membuat makanan bergizi lebih mudah dijangkau dan pengeluaran warga benar-benar turun.

New York juga tidak menjadikan produk kemasan sebagai pusat programnya. Barang pabrikan tetap dapat tersedia, tetapi perhatian utama diberikan kepada pangan segar dan kebutuhan pokok yang langsung mempengaruhi biaya makan keluarga. Pemerintah kota tampaknya memahami bahwa murahnya makanan tidak cukup diukur dari harga mi instan atau makanan ringan, tetapi dari kemampuan warga membeli telur, sayuran, buah, daging, ikan, dan susu.

Kebijakan inilah yang menarik untuk dijadikan bahan refleksi bagi Indonesia. Negara kita juga sedang membangun jaringan ekonomi masyarakat melalui Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih. Pemerintah menargetkan pembentukan atau pengembangan sekitar 80 ribu koperasi sebagai bagian dari penguatan ekonomi desa dan ketahanan pangan.

Dalam rancangan resminya, koperasi tersebut sebenarnya tidak hanya diarahkan membuka toko sembako. Unit usahanya dapat mencakup simpan pinjam, klinik, apotek, pergudangan, tempat penyimpanan dingin, dan layanan logistik. Artinya, koperasi sejak awal mempunyai peluang untuk terlibat dalam pengumpulan, penyimpanan, pengiriman, dan penjualan pangan.

Namun, bagian yang paling mudah terlihat masyarakat tetap berupa gerai ritel. Rak-raknya dapat segera diisi beras kemasan, minyak goreng, gula, mi instan, sabun, minuman, makanan ringan, dan berbagai produk pabrikan. Model seperti itu memang paling mudah dijalankan karena barangnya tersedia, pemasoknya sudah ada, dan pola penjualannya telah dikenal luas.

Tidak ada yang salah dengan koperasi menjual kebutuhan ritel. Masyarakat desa tetap membutuhkan beras, minyak, gula, gas, pupuk, , dan keperluan rumah tangga dengan harga yang masuk akal. Masalahnya muncul jika koperasi hanya membeli barang dari distributor yang sama, lalu menjualnya dengan cara yang tidak berbeda jauh dari warung atau minimarket.

Kalau jalur barangnya tetap berasal dari produsen besar, masuk ke distributor, diteruskan ke agen, lalu baru tiba di koperasi, maka rantai perdagangan tidak banyak berubah. Koperasi hanya menjadi toko baru dengan papan nama berbeda. Harga belum tentu jauh lebih murah, sementara warung kecil di sekitarnya justru harus menghadapi pesaing yang memperoleh dukungan lebih besar.

Padahal kelebihan koperasi tidak terletak pada kemampuannya meniru minimarket. Kekuatan utamanya adalah mempertemukan kebutuhan warga dengan produksi milik anggotanya. Karena berdiri dekat dengan petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha kecil, koperasi seharusnya dapat mengetahui hasil apa yang tersedia dan pasar mana yang membutuhkan.

Koperasi di wilayah pertanian dapat membeli beras atau sayuran dari kelompok tani. Di sentra peternakan, koperasi dapat menyerap telur, daging, atau susu langsung dari produsen. Di daerah pesisir, koperasi dapat mengumpulkan ikan hasil tangkapan, menyimpannya dalam ruang pendingin, lalu menjualnya kepada masyarakat atau mengirimkannya ke daerah lain.

Barang-barang tersebut tidak cukup hanya dikumpulkan. Koperasi perlu melakukan penyortiran, pencatatan mutu, penyimpanan, pengemasan, dan pengiriman agar produk tidak cepat rusak. Gerai koperasi kemudian menjadi salah satu jalur penjualan, bukan satu-satunya kegiatan yang dikerjakan.

Model semacam ini dapat menyelesaikan dua masalah sekaligus. Produsen memperoleh pasar yang lebih pasti dan posisi tawar yang lebih kuat, sedangkan konsumen berpeluang mendapatkan harga lebih masuk akal karena jumlah perantara berkurang. Koperasi juga mempunyai kegiatan usaha yang benar-benar dari kekuatan ekonomi wilayahnya sendiri.

Selama ini, persoalan pangan Indonesia sering memperlihatkan keadaan yang bertolak belakang. Ketika panen melimpah, harga di tingkat petani dapat jatuh karena produk harus segera dijual dan fasilitas penyimpanan terbatas. Namun, konsumen belum tentu membeli dengan harga murah karena barang tetap melewati biaya pengangkutan, penyortiran, pergudangan, dan beberapa lapis pedagang.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa masalah pangan bukan hanya soal kemampuan produksi. Indonesia dapat menghasilkan beras, telur, ikan, buah, dan sayuran dalam jumlah besar, tetapi distribusinya belum selalu membuat produsen dan konsumen sama-sama diuntungkan. Petani dapat menerima harga rendah pada saat masyarakat tetap membayar mahal.

Koperasi seharusnya hadir di antara dua keadaan tersebut. Perannya bukan menghapus seluruh pedagang karena distribusi tetap membutuhkan banyak tenaga dan keahlian. Koperasi dibutuhkan untuk memperpendek bagian rantai yang terlalu panjang, memperbaiki penyimpanan, dan memperkuat posisi produsen ketika berhadapan dengan pasar.

Karena itu, keberhasilan koperasi tidak cukup dihitung dari jumlah gedung yang diresmikan atau banyaknya rak yang terisi. Ukurannya juga harus mencakup berapa banyak hasil produksi warga yang terserap, seberapa besar kerusakan pangan dapat ditekan, dan apakah selisih harga antara produsen dengan konsumen berhasil diperkecil. Tanpa ukuran tersebut, koperasi mudah terlihat aktif secara fisik tetapi lemah secara fungsi.

Fasilitas gudang dan penyimpanan dingin yang tercantum dalam rancangan program juga tidak boleh menjadi pelengkap. Bagi petani dan nelayan, kemampuan menyimpan produk dapat menentukan apakah hasil panen harus dilepas murah pada hari yang sama atau bisa dijual ketika harga lebih baik. Bagi konsumen, penyimpanan yang baik menjaga pasokan lebih stabil dan mengurangi kenaikan harga akibat barang cepat rusak.

Layanan logistik juga seharusnya tidak hanya dipahami sebagai jasa pengiriman paket. Kendaraan dan jaringan distribusi koperasi dapat digunakan untuk membawa hasil produksi dari desa menuju pasar, kota, sekolah, rumah makan, atau koperasi lain yang membutuhkan. Dengan demikian, setiap koperasi tidak perlu bekerja sendirian dan hanya bergantung pada konsumen di sekitar gerainya.

Di sinilah pelajaran dari New York menjadi relevan. Kota tersebut memulai programnya dengan masalah yang jelas, yaitu tingginya biaya pangan. Setelah masalahnya ditentukan, supermarket, anggaran, lokasi, operator, dan standar harga disusun sebagai alat untuk menyelesaikannya.

Indonesia seharusnya dapat melakukan lebih banyak karena koperasi berada sangat dekat dengan pusat produksi pangan. Kita bukan hanya memiliki masyarakat yang membutuhkan bahan makanan terjangkau, tetapi juga jutaan produsen kecil yang membutuhkan pasar. Apabila kedua sisi itu disambungkan, koperasi tidak hanya menurunkan biaya belanja, tetapi juga menggerakkan pendapatan masyarakat desa.

Indonesia tidak perlu menyalin model New York secara persis. Bentuk kepemilikan, kondisi pasar, dan luas wilayahnya berbeda. Namun, prinsip dasarnya layak dipelajari. Sebuah toko atau lembaga ekonomi harus dibangun berdasarkan masalah yang hendak diselesaikan, bukan hanya karena pembukaan gerai mudah diperlihatkan sebagai pencapaian.

Kalau masalah suatu desa adalah harga gabah jatuh, koperasi harus mampu membeli, menyimpan, atau mengolah gabah tersebut. Kalau sayuran cepat rusak, koperasi harus menyediakan ruang penyimpanan dan jalur pengiriman. Kalau harga telur rendah di kandang tetapi tinggi di pasar, koperasi harus membantu memperpendek jalurnya.

Gerai sembako tetap penting, tetapi ia seharusnya menjadi bagian akhir dari sistem usaha yang lebih luas. Di belakang gerai harus ada kerja sama dengan produsen lokal, data kebutuhan masyarakat, gudang yang berfungsi, kendaraan pengangkut, pengelola yang terlatih, dan pencatatan keuangan yang terbuka. Tanpa itu, koperasi hanya akan sibuk menjual barang yang sebenarnya sudah tersedia di warung sekitar.

New York baru merencanakan lima supermarket, tetapi barang yang diprioritaskan dan beban yang ingin dikurangi sudah ditentukan dengan jelas. Indonesia menyiapkan koperasi dalam jumlah jauh lebih besar dan tersebar sampai tingkat desa. Peluangnya tentu jauh lebih luas apabila jaringan tersebut benar-benar dipakai untuk menyambungkan tempat produksi dengan meja makan masyarakat.

Pada akhirnya, Indonesia tidak hanya membutuhkan lebih banyak toko. Yang lebih dibutuhkan adalah jalur pangan yang lebih pendek, penyimpanan yang lebih baik, dan pasar yang lebih adil bagi produsen. Jangan sampai yang bertambah hanya jumlah gerainya, sementara petani tetap menjual murah, konsumen tetap membeli mahal, dan rantai distribusi lama tidak pernah berubah.

FAQ

Q: Mengapa program supermarket murah di New York menarik untuk Indonesia?
A: Karena New York membangun supermarket sebagai solusi untuk menurunkan biaya pangan, bukan sekadar membuka toko baru. Pemerintah menekan biaya operasional agar harga kebutuhan pokok lebih terjangkau. Pendekatan ini dapat menjadi inspirasi bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih agar berfokus menyelesaikan persoalan distribusi pangan, bukan hanya menjalankan usaha ritel.

Q: Apa tantangan jika Koperasi Merah Putih hanya berfungsi sebagai gerai sembako?
A: Jika koperasi hanya menjual barang dari distributor yang sama seperti minimarket atau warung, rantai distribusi tidak berubah sehingga harga belum tentu lebih murah. Selain itu, koperasi berisiko menjadi pesaing bagi pedagang kecil tanpa memberikan manfaat yang signifikan bagi petani maupun konsumen.

Q: Bagaimana koperasi dapat benar-benar membantu petani dan konsumen?
A: Koperasi perlu berperan sebagai penghubung antara produsen dan pasar dengan membeli hasil petani, nelayan, atau peternak secara langsung, menyediakan gudang dan penyimpanan dingin, mengelola logistik, serta memperpendek rantai distribusi. Dengan cara ini, produsen memperoleh harga yang lebih baik, sementara masyarakat dapat membeli pangan dengan harga yang lebih terjangkau.



Follow Widget