Penunjukan sebagai komisaris utama perusahaan telekomunikasi publik sekaligus pejabat pemerintah menunjukkan bagaimana Fadli bergerak di persimpangan antara sektor negara dan dunia usaha. Keduanya memberi warna berbeda namun saling melengkapi dalam membentuk kapasitas kepemimpinannya.

Sebelum terjun ke dunia pemerintahan dan korporasi, Fadli juga pernah mengemban tanggung jawab di dunia akademik. Ia menjabat sebagai Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama di Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, sebuah peran yang menuntut keahlian membangun jejaring institusional, baik di dalam maupun luar negeri.

Tidak hanya itu, ia juga pernah dipercaya sebagai Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR, posisi yang memperdalam pemahamannya tentang dinamika legislatif dan konstitusional. Rangkaian jabatan itu membentuk profil seorang Fadli Tri Hartono yang multidimensi: teknokrat, politikus, sekaligus akademisi.

Latar belakang pendidikannya mendukung kiprah tersebut. Fadli menyelesaikan studi Strata Satu di Institut Teknologi Bandung, salah satu kampus teknik paling bergengsi di Indonesia. Ia kemudian melanjutkan Strata Dua di Tsinghua University, Tiongkok, sebuah institusi kelas dunia yang dikenal menghasilkan pemimpin-pemimpin inovatif di bidang sains dan teknologi.

Pelantikannya sebagai Wakil Kepala Bakom berlangsung dalam suasana yang lebih luas dari sekadar seremoni jabatan. Di hari yang sama, sebanyak 26 tokoh nasional juga dilantik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres. Nama-nama besar hadir dalam daftar tersebut, mulai dari pengusaha kawakan Chairul Tanjung dan Tahir, hingga mantan menteri, gubernur, aktivis, dan politikus senior.



Follow Widget