JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Nama besar Sriwijaya kini menempel di lambung kapal induk paling bergengsi yang pernah dimiliki Indonesia. Mantan kapal induk Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, resmi berganti identitas menjadi KRI Sriwijaya 100 dalam sebuah upacara militer yang berlangsung khidmat di geladak penerbangan kapal itu sendiri, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis, 24 September 2026.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto memimpin langsung upacara bersejarah itu. Di hadapan para pejabat tinggi militer dari dua negara, bendera Italia diturunkan untuk terakhir kalinya dari tiang kapal, digantikan Sang Merah Putih yang berkibar dengan penuh kebanggaan. Momen reflagging ini menjadi penanda resmi bahwa kapal tersebut kini adalah milik Republik Indonesia.

Proses pengalihan kapal induk ini bukan sesuatu yang terjadi dalam semalam. Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1067/VIII/2026 tertanggal 31 Agustus 2026 menjadi dasar hukum penetapan mantan ITS Giuseppe Garibaldi sebagai kapal perang Republik Indonesia. Kapal produksi Fincantieri SpA Italia itu kini resmi berstatus KRI dengan nomor lambung 100 dan singkatan SWJ.

Kolonel Laut (P) Muhammad Buadasan ditunjuk sebagai Komandan pertama KRI Sriwijaya 100. Pengukuhannya dilakukan langsung oleh Panglima TNI dalam rangkaian upacara yang sama. Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut Nomor Kep/1988/IX/2026 tertanggal 23 September 2026, ia menerima tugas, wewenang, dan tanggung jawab penuh atas kapal kebanggaan baru Indonesia itu.

Pilihan nama Sriwijaya bukan tanpa alasan kuat. Dalam pembacaan riwayat penamaan kapal saat upacara, dijelaskan bahwa tradisi TNI Angkatan Laut mewajibkan kapal induk diberi nama yang merujuk pada kerajaan-kerajaan maritim besar Nusantara. Sriwijaya dan Majapahit adalah dua nama yang secara historis paling layak menyandang predikat itu.

Kerajaan Sriwijaya memang bukan nama sembarangan. Berpusat di sekitar wilayah Palembang dan berkembang sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi, Sriwijaya menjadi kekuatan politik, perdagangan, dan keagamaan yang pengaruhnya menjangkau Selat Malaka, Semenanjung Malaya, Jawa, hingga penjuru Asia Tenggara. Jejak kejayaannya terdokumentasi dalam catatan perjalanan pendeta Tiongkok I-Tsing serta berbagai prasasti seperti Kedukan Bukit dan Talang Tuwo.

Ketentuan formal soal penamaan kapal perang ini tercantum dalam Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut Nomor K/976/VII/2006. Regulasi itu lahir untuk menciptakan keseragaman kategori nama berdasarkan jenis kapal. Kapal induk, sebagai wahana puncak kekuatan proyeksi laut, memperoleh tempat istimewa: wajib dinamai sesuai kerajaan maritim besar yang pernah menguasai jalur pelayaran Nusantara.

Dalam sambutannya, Jenderal Agus Subiyanto menegaskan bahwa kehadiran KRI Sriwijaya di jajaran TNI Angkatan Laut bukan sekadar penambahan alutsista. Ini adalah wujud nyata modernisasi kekuatan pertahanan laut Indonesia di tengah lingkungan strategis yang semakin kompleks. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas dan posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia membutuhkan kekuatan laut yang modern dan tangguh.

Panglima TNI juga menyebut KRI Sriwijaya 100 akan berfungsi sebagai pusat komando operasi laut yang andal, sekaligus sarana diplomasi pertahanan dan bantuan kemanusiaan di tingkat nasional, regional, maupun global. Kapal ini bukan hanya alat tempur, melainkan juga simbol kehadiran Indonesia di lautan internasional.

Upacara peresmian dihadiri sejumlah tamu kehormatan dari dalam dan luar negeri. Duta Besar Italia untuk Indonesia, Mr. Roberto Salamina, hadir menyaksikan momen pengalihan kapal yang pernah menjadi kebanggaan armada laut Italia itu. Turut hadir pula Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dr. Utut Adianto, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandio Budita, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, serta Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Muhammad Toni Harjono. Dari pihak Italia, hadir Kepala Staf Angkatan Laut Italia, Admiral Enrico Credendino.

Rangkaian upacara berlangsung penuh khidmat di geladak penerbangan kapal. Diawali dengan penurunan bendera Italia secara resmi, dilanjutkan pengibaran Sang Merah Putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Seluruh tamu undangan diminta berdiri dan menghadap bendera dalam momen yang syarat makna itu.

Setelah pembacaan keputusan resmi dan pernyataan peresmian oleh Panglima TNI, upacara dilanjutkan dengan penekanan tombol peresmian, pengukuhan komandan kapal, pembacaan doa, serta penandatanganan prasasti peresmian. Sesi foto bersama menutup rangkaian acara yang menjadi tonggak sejarah baru bagi kekuatan laut Indonesia.

Bagi TNI Angkatan Laut, hadirnya kapal induk pertama yang benar-benar beroperasi penuh ini merupakan lompatan besar. KRI Sriwijaya 100 membawa kemampuan proyeksi kekuatan udara-laut yang selama ini belum pernah dimiliki Indonesia. Dengan kapasitas mengangkut dan mengoperasikan pesawat udara dari atas laut, kapal ini mengubah secara signifikan peta kekuatan pertahanan maritim kawasan.

Nama Sriwijaya yang disematkan bukan hanya penghormatan terhadap sejarah. Ia adalah pesan yang jelas: Indonesia kembali ke kodratnya sebagai bangsa bahari yang berdaulat di lautan, mewarisi semangat kerajaan maritim yang pernah menguasai separuh jalur perdagangan Asia Tenggara lebih dari satu milenium silam.



Follow Widget