“Jangan mau jadi Raim Laode kedua. Jadilah dirimu yang pertama.”

Malam pun ditutup dengan lautan cahaya. Ribuan flash handphone dinyalakan bersama — menciptakan pemandangan seperti bintang-bintang yang turun ke bumi Cibubur. Raim memintanya bukan untuk konten semata, melainkan untuk sebuah pesan: bahwa di tempat inilah, malam inilah, mimpi-mimpi itu nyata.

Dan di balik gemerlap cahaya itu, ada seorang penyanyi yang diam-diam bersyukur — karena doa seorang Penggalang kecil dari Sulawesi akhirnya dijawab, dengan cara yang jauh lebih indah dari yang pernah ia bayangkan.

FAQ

Apa makna penampilan Raim Laode di Jambore Nasional XII bagi dirinya secara pribadi?

Penampilan ini memiliki makna sangat dalam bagi Raim Laode. Sejak kecil ia berdoa bisa hadir di Cibubur sebagai peserta Jambore Nasional, namun kesempatan itu tak pernah datang. Malam itu ia hadir bukan sebagai peserta, melainkan sebagai tamu kehormatan — sebuah jawaban atas doa masa kecilnya yang ia sebut “hanya sedang mengantri.”

Siapa Akbar dan Frenaldi, dan mengapa keduanya dipanggil ke panggung oleh Raim Laode?

Akbar adalah peserta difabel dari SLB Bogor yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, sementara Frenaldi adalah peserta dari Barito Barat, Kalimantan Tengah, yang dengan berani menghampiri Akbar dan berkenalan menggunakan bahasa isyarat meski baru pertama kali bertemu. Raim memanggil keduanya sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan semangat mereka, sekaligus menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi.

Apa pesan utama yang ingin disampaikan Raim Laode kepada peserta Jamnas XII 2026?

Raim menyampaikan tiga pesan inti: bahwa doa tidak pernah sia-sia meski jawabannya membutuhkan waktu; bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi; dan bahwa setiap orang harus berani menjadi dirinya sendiri yang pertama, bukan tiruan dari orang lain.



Follow Widget