Raim langsung me-repost unggahan itu. Dan malam ini, ia memutuskan untuk memanggil Akbar ke atas panggung.
Suasana berubah hening ketika Akbar melangkah maju. Ribuan pasang mata menyaksikan seorang anak muda dengan senyum lebar berjalan menuju sorotan lampu panggung. Raim menyambutnya hangat, menyerahkan kado berupa pakaian, buku, dan bantuan uang jajan sebesar satu juta rupiah.
Tapi yang paling membekas bukan pemberiannya — melainkan cerita yang menyertai momen itu.
Ada peserta lain yang ikut dipanggil ke panggung: Frenaldi, seorang pemuda dari Barito Barat, Kalimantan Tengah. Frenaldi adalah peserta yang dengan berani menghampiri Akbar lebih dulu — mengulurkan tangan, memperkenalkan diri menggunakan bahasa isyarat meski baru pertama kali bertemu. Sebuah keberanian kecil yang ternyata menyentuh hati jutaan orang lewat layar.
“Saya menangis sebenarnya, saya lihat ini,” akui Raim, suaranya bergetar.
Ia kemudian membuka sesuatu yang selama ini ia simpan. Ayahnya, katanya, juga memiliki keterbatasan pendengaran — sekitar 50 persen. Melihat Akbar dan Frenaldi di atas panggung, ia teringat sang ayah. Dan ia melihat betapa jauhnya perjalanan yang bisa ditempuh seseorang jika tidak menyerah pada keterbatasan yang dimilikinya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.