Raim bukan alumni Pramuka dalam arti yang biasa. Ia tidak sekadar pernah mengenakan seragam cokelat lalu menanggalkannya begitu dewasa. Ia pernah aktif sebagai anggota Dewan Kerja Cabang (DKC) Wakatobi — struktur kepemimpinan muda dalam organisasi Pramuka di tingkat cabang. Dari sana ia melanjutkan perjalanan: sempat masuk kepolisian, lalu memilih panggung seni sebagai medan hidupnya.
“Bukan dulu, sampai sekarang saya masih anak Pramuka,” tegasnya, disambut tepuk tangan meriah. Ia percaya bahwa menjadi Pramuka bukan soal seragam atau kartu anggota. Pramuka, baginya, adalah cara pandang dan cara hidup.
Malam itu ia juga bercerita tentang kebiasaannya menulis lagu. Banyak lagu lahir di masa-masa ia bermain Pramuka — di tenda, di bawah pohon, di sela kegiatan lapangan. Waktu itu ia tidak tahu hidupnya akan bermuara ke mana. Ia hanya menulis. Dan ternyata, tulisan-tulisan itu menjadi batu loncatan menuju panggung nasional, bahkan global.
Album Mikro yang ia besut kini bertengger sebagai album nomor satu di Indonesia. Lebih dari itu, album berbahasa Indonesia ini menjadi satu-satunya yang menembus jajaran top 50 Spotify global — sebuah pencapaian yang bahkan ia sendiri tidak pernah berani bayangkan ketika masih duduk di tenda perkemahan.
Di tengah penampilan yang penuh gelak tawa dan lagu-lagu hits itu, malam menghadirkan momen paling menggetarkan. Raim, yang sebelumnya berselancar di media sosial, menemukan sebuah unggahan dari seorang pembina bernama Kak Ardi. Postingan itu menampilkan seorang peserta Jamnas XII bernama Akbar — siswa difabel dari SLB Bogor yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.