“Tidak ada mimpi yang tidak mungkin. Mimpi itu gratis, ambil yang paling mahal.”

Pesan itu ia tujukan bukan hanya kepada Akbar dan Frenaldi, melainkan kepada seluruh peserta yang hadir malam itu. Ribuan anak muda yang telah melewati seleksi panjang dari daerah masing-masing, menempuh perjalanan jauh, dan kini duduk lelah namun tetap menyala.

Raim tahu mereka kelelahan. Ia melihat sendiri para peserta berlalu-lalang di sekitar lokasi sepanjang hari, wajah-wajah yang tampak terkuras. Namun senyum yang ia lihat malam itu meyakinkannya: inilah mental Pramuka sejati. Tidak mengeluh meski lelah, tidak padam meski jauh dari rumah.

“Kamu sedang menjalani mimpiku yang tidak terjadi waktu saya,” katanya kepada para peserta. “Jadikan Jambore Nasional tahun ini sebagai pengalaman paling berarti dalam hidupmu.”

Sebelum menutup malam, ia meninggalkan satu pesan yang paling tajam. Ketika ada yang menyebut Pramuka sebagai jalan untuk “menjadi seperti Raim Laode,” ia langsung menolak. Bukan karena merendah, tapi karena ia percaya sesuatu yang lebih besar dari sekadar menjadi tiruan orang lain.



Follow Widget