Langkah efisiensi ini sejalan dengan visi besar pemerintahan Presiden Prabowo dalam membentuk ekosistem investasi yang lebih ramping dan berdaya saing tinggi. Pemerintah percaya bahwa BUMN yang terlalu banyak justru menjadi beban fiskal dan berpotensi tumpang tindih dalam peran dan fungsinya.

Di sisi investasi, capaian semester pertama 2026 memberikan sinyal menggembirakan. Realisasi investasi mencapai sekitar 1.106 triliun rupiah, 7,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Investasi ini juga menyerap 1,4 juta tenaga kerja langsung—meningkat 15 persen—belum termasuk lapangan kerja tidak langsung yang turut terdampak.

Kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2026 pun terbilang signifikan. Sektor ini menyumbang sekitar 39 persen dari total pertumbuhan, melampaui kisaran normal 28–29 persen. Pertumbuhan investasi sendiri tercatat 6,87 persen, melampaui laju konsumsi yang berada di angka 5,06 persen.

Pemerintah menargetkan investasi sebesar 2,32 kuadriliun rupiah pada tahun 2027, naik dari target 2026 yang mencapai 1,3 kuadriliun rupiah. Angka ini bagian dari target ambisius 13,032 kuadriliun rupiah selama lima tahun, periode 2025–2029—atau setara dengan lonjakan 143 persen dibanding satu dekade sebelumnya.

Namun pejabat Danantara mengingatkan bahwa angka-angka investasi bukanlah tujuan akhir. Setiap rupiah yang masuk harus bisa menciptakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. “Angka pertumbuhan ekonomi dan investasi bukan tujuan akhir, melainkan instrumen untuk menciptakan kesejahteraan rakyat,” tegasnya.



Follow Widget