Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada 17 April bahwa Hormuz “sepenuhnya terbuka” disambut dengan skeptisisme. Kenyataannya, akses masih terikat pada keberlangsungan gencatan senjata Israel-Lebanon, dan hanya kapal komersial tertentu yang diizinkan melintas melalui rute yang dikoordinasikan dengan militer Iran. Teheran bahkan terang-terangan menyatakan tengah menyiapkan regulasi pengenaan biaya transit dalam jangka panjang. Trump menegaskan blokade AS tidak akan dicabut sampai kesepakatan yang lebih luas “100 persen selesai.”

Nuklir: Isu Paling Pelik yang Menentukan Segalanya

Inilah jantung dari seluruh perundingan — dan sekaligus titik paling rawan keretakan.

Trump menyatakan pembicaraan di Pakistan kandas utamanya karena Iran menolak menghentikan program nuklirnya. AS menginginkan pelucutan nyaris total: Iran hanya diizinkan mengoperasikan fasilitas pembangkit listrik sipil di Bushehr, tanpa kapasitas untuk memproduksi bom atom. Iran bergeming, menegaskan haknya atas pengayaan uranium untuk kepentingan sipil — meski klaim tersebut telah lama dipandang curiga oleh sejumlah pemerintah Barat.

Sebelum serangan gabungan AS-Israel pada Juni 2025, inspektur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mencatat Iran telah mengumpulkan 441 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan 60% — material yang, jika diproses lebih lanjut, cukup untuk membuat sekitar selusin bom nuklir. Lokasi dan kondisi cadangan itu kini tidak diketahui.



Follow Widget