Koordinasi intensif antara atase perdagangan dengan otoritas setempat menjadi kunci. Mitra importir di sisi Saudi pun merasakan langsung manfaat dari respons cepat yang ditunjukkan pihak KBRI Riyadh dalam menyelesaikan berbagai proses perizinan.
“Hal ini penting agar jamaah haji Indonesia tetap dapat menikmati makanan asli Indonesia sehingga kesehatan mereka tetap terjaga selama menjalankan ibadah haji,” kata Arif.
Arif menambahkan, saat ini tersedia sekitar 180 jenis makanan siap saji asal Indonesia yang bisa dipilih oleh eksportir maupun importir untuk memenuhi kebutuhan jemaah. Ragam pilihan ini menunjukkan betapa kaya dan kompetitifnya industri pangan olahan halal Indonesia—modal besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan di pasar global.
Syaratnya tetap ketat: setiap produk wajib dilengkapi sertifikasi halal dan sertifikat kesehatan, serta harus mempertahankan cita rasa khas masakan Indonesia. Bukan sekadar soal selera—melainkan soal kenyamanan psikologis dan kesehatan fisik jutaan jemaah yang harus menjaga stamina di tengah rangkaian ibadah yang melelahkan secara fisik.
Langkah Kemendag mengawal langsung ekspor ini mencerminkan pergeseran pendekatan pemerintah dalam mendorong ekspor produk halal—dari sekadar membuka akses pasar menjadi hadir dan terlibat aktif dalam setiap tahap proses ekspor. Model keterlibatan seperti ini, jika direplikasi untuk komoditas halal lain, berpotensi membuka jalan lebih lebar bagi produk Indonesia di pasar Timur Tengah yang nilainya terus tumbuh setiap tahun.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.