SUMEDANG, PUNGGAWANEWS – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali membuat gebrakan. Kali ini, ia turun langsung ke kawasan pasar kumuh di perbatasan Majalengka dan Sumedang untuk mendengar keluhan pedagang, menghitung kios, hingga menjanjikan renovasi fasilitas umum yang selama ini terabaikan, Senin 3 Agustus 2026.

Kunjungan lapangan ini bukan sekadar seremonial. Dedi berbicara langsung dengan pedagang buah, pemilik bengkel, hingga ibu rumah tangga yang menggantungkan hidup dari kios kecil di pinggir jalan. Ia duduk, bertanya, bahkan ikut menghitung jumlah lapak satu per satu.

Di kawasan itu, deretan kios berdiri di atas tanah yang sebagian milik pribadi dan sebagian lagi merupakan tanah PU (Pekerjaan Umum) provinsi. Para pedagang menyewa lapak dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 1,5 juta per bulan. Satu keluarga bahkan mengelola tiga kios sekaligus dengan total sewa Rp 1 juta per bulan, dikerjakan bersama suami istri.

Dedi tidak hanya mendengar. Ia langsung merespons dengan rencana konkret: kios-kios yang ada akan direnovasi menggunakan material alami seperti kayu dan injuk, bukan bata merah yang terkesan permanen. Konsepnya ingin menyerupai suasana saung, seperti yang ada di kawasan Ciater, agar lebih estetik dan ramah lingkungan.

Selama proses renovasi, para pedagang akan diberi kompensasi uang duduk sebesar Rp 1 juta selama satu bulan. Mereka diminta mengosongkan lapak sementara, menunggu pembangunan selesai, kemudian kembali berdagang. “Lamun leuwih, ditambah,” kata Dedi kepada para pedagang, disambut tawa dan anggukan setuju.

Tak hanya soal fisik bangunan, Dedi juga menyoroti soal kejujuran dalam berdagang. Ia meminta para pedagang menghitung nilai dagangannya secara jujur, lalu menetapkan harga jual dengan keuntungan maksimal 10 persen dari harga beli. “Kalau 500 jadi 550, itu cukup. Pemimpin harus jujur, rakyat pun harus jujur,” tegasnya.

Ia bahkan ikut menimbang buah, mencatat stok per kios, dan mengajak pedagang untuk membagikan sebagian hasil dagangan kepada warga sekitar. Buah yang berlebih dibagikan cuma-cuma agar uang tetap berputar di ekonomi rakyat.

Di sela kunjungan itu, Dedi juga menyaksikan kondisi jembatan Cilutung yang sedang dalam proses penggantian. Jembatan sepanjang 37 meter di perbatasan Majalengka-Sumedang itu mendapat anggaran sebesar Rp 17,8 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Proyek ini menyerap 27 tenaga kerja lokal dan diharapkan selesai dalam waktu dekat guna memperlancar konektivitas antarwilayah.

Gubernur menjelaskan bahwa infrastruktur jalan yang sudah diperbaiki turut mendorong geliat lokal. Salah seorang pedagang mengaku, setelah jalan diperbaiki, kawasan tersebut mulai ramai kembali dikunjungi wisatawan, terutama pada akhir pekan. “Baheula mah paburencay, ayeuna mah mimiti rame deui,” ujar salah satu pedagang perempuan dengan wajah sumringah.

Di tengah keramaian itu, Dedi tiba-tiba berhenti di depan seorang ibu muda berusia 28 tahun yang berjualan sambil merawat anak yang sakit. Sang anak, yang juga masih muda, didiagnosis mengidap TBC usus dan tengah menjalani perawatan di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Biaya pengobatan gratis, namun ongkos perjalanan pulang-pergi mencapai Rp 100.000 sekali jalan menjadi beban tersendiri bagi keluarga kecil ini.

Dedi langsung bereaksi. Ia memerintahkan stafnya untuk menghubungi Direktur Hasan Sadikin agar proses operasi sang anak bisa dipercepat. “Pekan depan sudah bisa operasi,” janjinya. Tak berhenti di situ, ia juga berjanji mencarikan lahan seluas 50 meter persegi untuk dibangunkan rumah bagi keluarga tersebut yang selama ini mengontrak dengan biaya Rp 1 juta per bulan.

Respons para pedagang terhadap kunjungan ini sangat positif. Banyak yang menyebut Dedi sebagai gubernur yang tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi benar-benar mendengar dan langsung bertindak. “Governor Aing, Mr Aing,” ucap salah satu warga dengan nada bangga dalam bahasa Sunda.

Saat hendak pergi, Dedi sempat disambut kerumunan warga yang ingin bersalaman dan mengucapkan terima kasih. Suasana hangat itu mencerminkan betapa dekatnya ia dengan masyarakat kecil yang selama ini merasa terpinggirkan.

Langkah Dedi Mulyadi ini menjadi potret nyata bagaimana seorang pemimpin daerah bisa mengubah kawasan kumuh bukan hanya dengan anggaran, tetapi juga dengan kehadiran, perhatian, dan keteladanan dalam kejujuran. Drainase akan diperbaiki, lampu PJU akan dipasang, dan kios-kios akan tampil lebih rapi. Yang lebih penting, pedagang merasa didengar.

FAQ

Apa saja yang dilakukan Gubernur Dedi Mulyadi saat mengunjungi kawasan pasar kumuh tersebut?

Dedi Mulyadi turun langsung menghitung kios, berdialog dengan pedagang, menetapkan rencana renovasi, memberikan kompensasi uang duduk selama renovasi, sekaligus membantu warga yang anaknya sakit TBC untuk mendapatkan penanganan medis lebih cepat.

Bagaimana rencana renovasi kios di kawasan tersebut?

Kios akan direnovasi menggunakan material alami seperti kayu dan injuk dengan konsep saung, bukan bata permanen. Selama renovasi, pedagang mendapat uang kompensasi Rp 1 juta per bulan dan bisa kembali berdagang setelah selesai.

Apa hubungan perbaikan jembatan Cilutung dengan kawasan pasar ini?

Jembatan Cilutung yang sedang direnovasi dengan anggaran Rp 17,8 miliar merupakan akses utama yang menghubungkan Majalengka dan Sumedang. Perbaikan infrastruktur ini terbukti mendorong kembali kunjungan wisatawan ke kawasan tersebut, yang berdampak langsung pada peningkatan omzet pedagang.



Follow Widget