Di sinilah ironi terbesar terlihat. Gempa Flores memukul keras kehidupan warga Manggarai Timur. Mereka mengungsi, kehilangan tempat tinggal, dan menggantungkan harapan pada bantuan dari pemerintah. Namun bantuan itu—atau setidaknya catatan tentang bantuan itu—seperti memiliki kehidupan tersendiri yang terpisah dari realita pengungsi.
Agustinus boleh jadi bukan sosok yang paling diplomatis dalam mengekspresikan ketidakpuasannya. Membanting logistik di depan kamera tentu bukan cara yang lazim ditempuh seorang pejabat. Namun dalam situasi darurat, di mana setiap hari keterlambatan berarti penderitaan nyata bagi para pengungsi, frustrasi semacam itu memiliki logikanya sendiri.
Yang perlu dicatat adalah bahwa reaksinya bukan muncul dari keengganan bekerja sama. Justru sebaliknya—ia ada di lapangan, meninjau langsung kondisi pengungsi, dan menemukan kesenjangan yang seharusnya sudah ditangani oleh sistem yang lebih besar dari dirinya.
Pertanyaannya kini adalah: ke mana perginya selisih antara angka di dokumen dan barang yang ada di lapangan?
Dalam penanganan bencana, celah antara laporan dan realita bukan sekadar persoalan administratif. Ia bisa berarti ribuan warga yang tidak mendapat makanan, tidak mendapat selimut, tidak mendapat -obatan—karena secara resmi, semuanya sudah “terdistribusi.”


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.