Artika Diantika, koordinator wilayah SPPG Blora, menjelaskan bahwa masa uji coba dua minggu itu bukan waktu yang sembarangan. Seluruh temuan di lapangan—termasuk kendala teknis dan respons penerima manfaat—akan dikumpulkan dan dilaporkan langsung kepada BGN sebagai bahan pertimbangan apakah sistem ini layak dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan.

Yang menarik, skema prasmanan ini juga dirancang untuk meminimalkan insiden di lapangan. Artika menyebut bahwa dengan sistem ini, proses distribusi makanan tetap berlangsung dalam kondisi hangat—bukan makanan yang sudah dingin sejak lama lalu baru dibagikan.

Di ruang kelas, respons siswa terhadap sistem baru ini cukup menggembirakan. Para pelajar tampak antusias menyambut perubahan model distribusi yang memberi mereka keleluasaan mengambil makanan sendiri sesuai porsi yang telah disiapkan.

Salah satu siswa bahkan menyebut rasanya tidak jauh berbeda dari biasanya—tetap enak. Menu yang tersedia saat uji coba mencakup nasi, tempe, hingga semangka sebagai buah penutup. Sederhana, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi dasar di tengah hari sekolah.

Sistem prasmanan ini tidak hanya soal makanan yang lebih hangat dan segar. BGN sejak awal merancangnya sebagai bagian dari proses pendidikan karakter—mengadopsi filosofi makan siang sekolah di Jepang yang sudah lama dikenal bukan semata urusan perut, melainkan juga pembentukan kepribadian.



Follow Widget