Celah itulah yang kini coba ditutup BGN melalui proses registrasi ulang ini. Mitra yang telah berinvestasi membangun dapur, merekrut tenaga pengolah makanan, dan memastikan distribusi berjalan lancar, kini mendapat kepastian bahwa mereka bisa mencari naungan yayasan yang benar-benar hadir — bukan sekadar tertera di atas kertas.

Transparansi dan akuntabilitas menjadi dua kata kunci yang terus diulang Mas Dar dalam pernyataannya. Bagi BGN, tidak cukup hanya memastikan makanan sampai ke tangan penerima manfaat — kualitas gizi, pertanggungjawaban anggaran, dan kejujuran dalam kemitraan harus berjalan beriringan.

Apakah langkah registrasi ulang ini akan cukup efektif membersihkan ekosistem program dari praktik-praktik yang merugikan mitra? Jawabannya akan bergantung pada seberapa serius BGN menindaklanjuti bukti-bukti yang diajukan mitra, dan seberapa tegas sanksi yang dijatuhkan kepada yayasan yang terbukti hanya memungut tanpa berkontribusi.

Yang pasti, sinyal yang dikirim BGN sudah cukup jelas: era yayasan “numpang nama” dalam Program MBG sedang dihitung mundur.



Follow Widget