Tak berhenti di uang, Jawa Barat juga mengirim 20 personel BPBD ke garis terdepan penanganan darurat. Mereka ditugaskan di Manggarai dan Manggarai Timur, dua kawasan yang paling parah dihantam bencana. Dua puluh orang mungkin terdengar sedikit untuk skala bencana sebesar ini, tapi dua puluh orang terlatih yang tahu apa yang harus dilakukan tetap jauh lebih berharga daripada seribu relawan kikuk yang datang demi konten media sosial.

Dedi Mulyadi, dalam kalimat yang terdengar seperti kutipan poster motivasi namun tidak sepenuhnya salah, menegaskan bahwa membantu sesama tidak boleh dibatasi oleh sekat wilayah. Pernyataan itu mudah diucapkan. Yang tidak mudah adalah membuktikannya dengan Rp600 juta dari kantong pribadi — sesuatu yang, ironisnya, lebih banyak pejabat negeri ini pilih hindari sambil berkoar soal kemanusiaan dari podium berpendingin udara.

Ada ironi yang perlu dicatat di sini. Indonesia adalah negara yang tak pernah kekurangan bencana, namun selalu tampak kekurangan respons yang proporsional. Setiap kali gempa, banjir, atau longsor melanda daerah terpencil, siklus yang sama berulang: pernyataan empati dari pejabat, kiriman bantuan yang terlambat, laporan yang sulit diverifikasi, lalu semuanya terlupakan ketika berita baru datang.

Maka ketika sebuah provinsi datang dengan skema yang sedikit berbeda — menggalang dana besar, membeli kebutuhan lokal, mengirim personel terlatih — hal itu layak dicatat, bukan karena sempurna, tapi karena setidaknya ada upaya untuk tidak sekadar tampil baik di depan kamera.

Tentu, skeptisisme tetap sah. Rp4 miliar adalah angka yang tidak kecil, namun juga bukan jumlah yang akan menyelesaikan semua masalah di wilayah terdampak bencana skala besar. Distribusi yang salah sasaran, birokrasi yang lamban, atau koordinasi yang buruk di lapangan bisa menggerus dampak nyata dari angka yang tampak impresif itu.



Follow Widget