“Kami mengumpulkan peternak-peternak untuk ayam dan telur, kami kumpulkan, kami diskusi. Kemudian memberikan beberapa solusi,” katanya.
Fluktuasi harga ayam dan telur bukan barang baru dalam industri peternakan nasional. Harga kerap anjlok ketika produksi melimpah namun permintaan stagnan, sebuah pola yang berulang dan kian menekan margin keuntungan peternak skala kecil hingga menengah.
Di sinilah BGN punya posisi strategis. Sebagai lembaga yang mengelola program gizi berskala nasional dengan jaringan SPPG yang tersebar luas, BGN punya daya beli kolektif yang signifikan untuk ikut menstabilkan pasar komoditas pangan, khususnya produk peternakan unggas.
Pemerintah berharap kombinasi antara kebijakan serapan melalui BGN dan dialog langsung dengan peternak dapat menghasilkan dampak ganda. Harga di kandang membaik, sementara asupan protein masyarakat—khususnya anak-anak penerima manfaat program gizi—turut terjaga.
Langkah ini juga mencerminkan pendekatan pemerintah yang berusaha menghubungkan dua kebijakan besar yang sebelumnya berjalan terpisah: program peningkatan gizi nasional dan stabilitas harga pangan di sektor peternakan. Jika berhasil diterapkan secara konsisten, sinergi ini bisa menjadi model penanganan gejolak harga komoditas pangan lain di masa mendatang.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.