Prabowo juga menyerukan persatuan. Bukan persatuan retoris, melainkan persatuan yang ia anggap sebagai syarat mutlak untuk merebut kembali kedaulatan sumber daya alam Indonesia.
“Bersatulah untuk mengamankan, menguasai kembali semua kekayaan bangsa Indonesia supaya rakyat kita bisa menikmati kekayaan tersebut,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia butuh ratusan tahun, diisi dengan darah, keringat, dan air mata. Kedaulatan ekonomi, menurutnya, membutuhkan semangat yang tidak kalah besar.
Di penghujung pidatonya, Prabowo menyampaikan pesan yang terasa personal kepada para menterinya. Ia berguyon soal kemampuan tentara yang bisa tidur di tengah upacara—lalu mengingatkan bahwa zaman sudah berbeda, dan tidak ada lagi ruang untuk kendur.
“Kalau mau ilmu, nanti saya kasih ilmu,” katanya, setengah bercanda, setengah serius.
Dua belas tahun tanpa peremajaan tebu adalah cermin dari masalah yang lebih besar: tata kelola sektor pangan yang selama ini berjalan tanpa rasa urgensi. Kini, dengan Amran di garis terdepan dan Prabowo yang tidak mau main-main, Indonesia tampaknya sedang mencoba membalik halaman itu—dengan tenggat waktu yang dipersempit menjadi dua tahun.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.