Posisi Mamdani mencerminkan sebuah visi politik yang ia sebut sebagai “politik universal”, yakni sebuah kerangka etis di mana kejahatan yang begitu berat, sehingga menyinggung seluruh umat manusia, harus mendapat pertanggungjawaban dari siapa pun yang melakukannya, tanpa terkecuali.

Sikap ini membuatnya berada di posisi yang tidak lazim bagi seorang pejabat kota Amerika: secara tegas menentang kebijakan luar negeri pemerintah federal, sekaligus mendorong kepatuhan terhadap lembaga hukum internasional yang selama ini memang tidak diakui oleh Amerika Serikat.

Amerika Serikat hingga kini memang belum menjadi anggota ICC, sebuah kenyataan yang membuat seruan Mamdani terasa lebih seperti pernyataan simbolis daripada kebijakan yang bisa segera dieksekusi. Meski begitu, dampak politiknya nyata: ia memposisikan diri sebagai suara kritis dari dalam sistem terhadap kebijakan AS yang kerap dianggap dua standar dalam urusan hak asasi manusia dan hukum internasional.

Pernyataan Mamdani juga menegaskan satu hal yang paling diingat publik dari wawancara itu: “Saya tidak akan menyambut Benjamin Netanyahu atau penjahat perang lainnya ketika mereka datang ke kota ini.”

Kalimat itu bukan retorika kosong. Di baliknya ada proses hukum yang dikaji serius, ada prinsip politik yang dipertahankan konsisten, dan ada keberanian untuk mengambil posisi yang jelas di tengah isu yang paling membelah opini publik Amerika saat ini: konflik Gaza.



Follow Widget