Terlepas dari motif sesungguhnya, satu hal yang pasti: Sultan Hamengkubuwono IX menutup lembar karirnya di panggung nasional dengan caranya sendiri—bukan dengan terdepak atau tersingkir, melainkan dengan sebuah penolakan yang tenang namun penuh keyakinan.
Setelah 1978, Sultan tidak lagi menduduki jabatan resmi di pemerintahan pusat. Ia kembali ke Yogyakarta, menjalani hari-harinya sebagai raja sekaligus tokoh yang tetap dihormati lintas generasi. Sultan Hamengkubuwono IX wafat pada 2 Oktober 1988, meninggalkan warisan yang jauh lebih panjang dari masa jabatan mana pun yang pernah ia emban.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.