Wali Kota kemudian menyinggung sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar trofi atau penghargaan. Salatiga dikenal luas sebagai kota paling toleran di Indonesia — sebuah predikat yang tidak datang dengan sendirinya, melainkan dibangun dari karakter warganya sehari-hari.

“Jiwa atau karakter ini merupakan fondasi dasar bagaimana kita sebagai warga Kota Salatiga untuk mempertahankan status Kota Salatiga sebagai kota tertoleran se-Indonesia,” tegasnya di hadapan kontingen.

Robby menekankan bahwa toleransi tidak boleh berhenti sebagai sebuah label atau gelar semata. Toleransi harus hidup dalam sikap, perilaku, dan cara pandang — dan Jamnas adalah laboratorium nyata untuk mengasah semua itu.

Pengalaman berinteraksi langsung dengan Pramuka dari berbagai suku, budaya, dan daerah di seluruh Indonesia selama delapan hari di Cibubur diharapkan semakin menumbuhkan kepekaan terhadap keberagaman. Sekaligus memperkuat rasa persatuan yang menjadi nafas gerakan kepramukaan sejak lama.

Wali Kota juga berpesan agar para peserta menjalani Jamnas dengan penuh keceriaan dan terbuka dalam membangun persaudaraan serta jejaring. Pengalaman berharga yang mereka dapatkan kelak diharapkan tidak disimpan sendiri, melainkan dibagikan kepada generasi muda lainnya di Salatiga ketika mereka pulang.



Follow Widget