Hubungan keluarga juga menjadi variabel penting yang kerap diabaikan dalam desain program rehabilitasi. Penyalahgunaan narkoba meninggalkan luka kepercayaan yang dalam di dalam keluarga. Membangun kembali hubungan itu butuh waktu dan pendampingan, bukan hanya bagi peserta, tetapi juga bagi anggota keluarga yang terdampak. Jarak yang jauh ke pulau terpencil bisa membuat kunjungan keluarga menjadi beban tersendiri, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Perlu diingat pula bahwa pemulihan dari ketergantungan bukan perjalanan linear. Kekambuhan bisa terjadi bahkan setelah seseorang menyelesaikan program perawatan. Ini bukan tanda kegagalan mutlak, melainkan bagian dari proses yang memang panjang. Karena itu, layanan pascarehabilitasi—akses ke konseling, dukungan komunitas, dan fasilitas kesehatan—sama pentingnya dengan program selama rehabilitasi berlangsung.

Di tengah seluruh pembahasan ini, satu hal yang harus tetap dijaga adalah ketegasan terhadap jaringan peredaran narkoba. Pendekatan yang lebih manusiawi bagi pengguna yang kecanduan tidak berarti melemahkan penegakan hukum terhadap bandar dan pengedar. Justru sebaliknya—dengan membedakan penanganan secara tepat, aparat dapat lebih fokus menghantam jaringan perdagangan narkoba yang menjadi sumber masalah, sementara mereka yang membutuhkan pertolongan mendapatkan penanganan yang sesuai.

Sistem ini tetap membutuhkan mekanisme verifikasi yang ketat. Jalur rehabilitasi tidak boleh menjadi celah bagi pelaku kejahatan narkotika untuk menghindari pertanggungjawaban hukum dengan mengklaim diri sebagai korban ketergantungan.

Wacana pulau rehabilitasi ini, pada akhirnya, mencerminkan sebuah pengakuan penting: bahwa kepadatan lapas bukan semata persoalan kurangnya bangunan penjara. Ia adalah gejala dari sistem penanganan narkotika yang perlu dirancang ulang secara menyeluruh—dari hulu berupa pencegahan, hingga hilir berupa reintegrasi sosial. Pulau terpencil mungkin bisa menjadi bagian dari solusi, tapi ia tidak bisa berdiri sendiri.

Pemerintah mungkin bisa menemukan pulau seluas ratusan hektare untuk menampung peserta rehabilitasi. Tapi yang jauh lebih sulit—dan jauh lebih menentukan—adalah memastikan mereka benar-benar pulih dan masih punya tempat untuk kembali di tengah masyarakat yang mau menerima. Sebab, keberhasilan rehabilitasi bukan hanya soal mengosongkan penjara. Ini soal memastikan semakin sedikit orang yang perlu kembali ke sana.



Follow Widget