Di balik kunjungan penuh kemanusiaan itu, KDM juga menyampaikan keprihatinan mendalam soal warga Indramayu, Subang, dan Karawang yang kerap menggunakan bak terbuka kendaraan niaga untuk mengangkut penumpang dalam jumlah besar. Menurutnya, ini bukan kali pertama serupa terjadi. Bahkan ia menyebut tradisi mengangkut penumpang di bak terbuka yang kadang dimodifikasi dengan bambu dan terpal sudah berlangsung turun-temurun.

Ia mengakui bahwa melarang ini bukan perkara mudah. Warga yang terbiasa akan menolak, bahkan marah jika ditertibkan. Namun tragedi di Kiajaran Kulon ini, kata KDM, harus menjadi pelajaran nyata bahwa kenyamanan sesaat tidak sebanding dengan risiko yang ditanggung seluruh keluarga.

Ambulans dari Bhayangkara disebut cepat tiba di lokasi dan langsung mengangkut korban ke rumah sakit. Proses evakuasi berjalan relatif cepat, meski kondisi di lokasi digambarkan sangat kacau dengan banyak korban bergelimpangan.

Duka yang melanda Desa Kiajaran Kulon dan sekitarnya bukan sekadar angka. Setiap korban meninggalkan kisah dan keluarga yang kini harus melanjutkan hidup tanpa mereka. Seorang suami yang bekerja di luar negeri harus terbang pulang setelah mendapat kabar istrinya tewas. Seorang ayah menyaksikan sendiri puing-puing kendaraan yang menewaskan anaknya. Seorang bocah sekolah dasar tidak pernah sempat mengerti mengapa ia ikut dalam perjalanan yang tak kembali itu.

KDM menutup kunjungannya dengan memimpin doa bersama, mendoakan agar seluruh korban diterima amal ibadahnya, diampuni dosanya, dan ditempatkan di sisi terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.



Follow Widget