Beberapa korban yang selamat masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Plumbon, Cirebon. KDM mengambil alih tanggung jawab biaya perawatan mereka setelah mengetahui keluarga korban sudah mengeluarkan uang dari kantong sendiri—Rp3 juta, Rp5 juta, bahkan ada tagihan Rp16 juta yang sempat diminta rumah sakit. Gubernur langsung menghubungi pihak rumah sakit dan meminta agar seluruh biaya ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Di antara korban selamat yang masih dirawat, ada seorang anak berusia delapan tahun yang mengalami luka di bagian mata. Kondisinya tidak kritis dan diperkirakan dapat dipulangkan dalam dua hari. Namun ada pula korban lain yang mengalami kondisi lebih serius—patah tulang dan cedera dada—yang membutuhkan perhatian medis lebih intensif.

Salah satu momen paling mengharukan dalam kunjungan KDM adalah ketika ia berbicara dengan seorang suami yang kehilangan istrinya bernama Karsini. Sang suami bercerita dengan getir bahwa pagi itu ia sempat melarang istrinya pergi. Karsini awalnya pamit hendak mengaji, namun di tengah jalan bergabung dengan rombongan pengiring pengantin. Sang suami mengaku kesal, tapi akhirnya mengalah. Kini ia harus menanggung kehilangan itu seumur hidup.

“Enggak ada teman bertengkar,” kata sang suami dalam logat Indramayu yang kental, menggambarkan betapa sepinya rumah tanpa kehadiran sang istri. KDM merespons dengan humor halus yang tetap penuh empati, sembari menasihati sang bapak agar tidak terburu-buru menikah lagi.

Untuk anak-anak yang ditinggalkan para korban, KDM secara khusus menyarankan agar uang santunan ditempatkan dalam bentuk deposito di Bank BJB. Langkah itu dimaksudkan agar dana tidak habis begitu saja, melainkan menjadi bekal pendidikan jangka panjang bagi anak-anak yang kini harus tanpa orang tua. Bagi anak yang sudah akan masuk SMP, KDM bahkan menyebut nama madrasah yang akan dituju sang anak.



Follow Widget