“Saya tidak tega mengucapkannya,” ujarnya, suaranya bergetar saat menceritakan kembali momen itu.
Namun tugas tetap tugas. Dengan cara selembut mungkin, Taufik menyampaikan bahwa waktu kunjungan telah habis. Ia menggunakan kata-kata yang dipilih dengan hati-hati, mengatakan kepada sang anak bahwa ayahnya pergi “bekerja bersama Uncle” — bukan frasa yang menggambarkan penangkapan atau penahanan.
Kepada sang ibu, Taufik juga menyampaikan pesan serupa: ceritakan kepada anaknya bahwa ayahnya sedang bekerja, bukan terlibat kejahatan. Tujuannya satu — menjaga kesehatan mental sang anak, yang pada akhirnya adalah tanggung jawab kemanusiaan yang lebih besar dari sekadar prosedur hukum.
Taufik baru memasang kembali borgol itu setelah keluarga tersangka benar-benar tidak terlihat dari pintu kantor. Ia tidak ingin anak kecil itu membawa pulang gambar ayahnya yang diborgol sebagai kenangan terakhir dari pertemuan itu.
“Di balik seragam kami, kami tetap manusia,” kata Taufik, menutup wawancara dengan kalimat yang mungkin akan diingat lama oleh siapa pun yang mendengarnya. “Kami harus menjadi penegak hukum yang mengedepankan kemanusiaan.”



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.