Taufik yang saat itu sedang menangani proses pengembangan kasus memutuskan untuk mengambil kebijakan. Ia membuka borgol tersangka setelah menilai situasi aman: tidak ada ancaman melarikan diri, tersangka bersikap kooperatif, dan pintu ruangan tetap dijaga oleh anggota lain.
“Ini termasuk diskresi yang sangat humanis,” katanya. “Selama situasi dinilai aman, tidak ada ancaman melarikan diri, dan pelaku kooperatif, tindakan ini dibenarkan.”
Pertemuan antara tersangka dan keluarganya berlangsung sekitar satu setengah jam. Momen pertama yang terekam — dan kemudian viral — adalah pelukan erat saat keduanya bertemu. Tangis pecah. Setelah itu, mereka duduk bersama, berbincang, bahkan makan bersama. Banyak momen lain yang tidak terekam kamera, namun tetap terpatri dalam ingatan Taufik.
Yang paling membekas bagi perwira muda itu adalah percakapannya dengan putri tersangka yang baru berusia tujuh tahun. Gadis kecil itu akan memasuki kelas satu sekolah dasar pada bulan berikutnya. Saat ditanya soal cita-cita, jawaban sang anak mengejutkan sekaligus mengharu-biru.
“Mau jadi polwan, Pak,” jawab sang anak polos.
Taufik mengaku dadanya sesak mendengar itu. Di satu sisi, ayah dari anak ini adalah seorang tersangka tindak pidana. Di sisi lain, anaknya justru bercita-cita menjadi penegak hukum — sosok yang selama ini menjaga ayahnya di balik borgol. Ironi yang pahit, sekaligus menyentuh.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.