“Masyaallah, hati saya benar-benar hancur saat itu,” tutur Taufik. Ia kemudian menyemangati sang anak, berjanji untuk mendukung impiannya kelak jika suatu hari datang ke Polda Kaltim untuk berlatih.

Ayah sang anak pun mendengar percakapan itu. Ia hanya bisa tersenyum tipis, lalu meminta maaf kepada anaknya — sebuah permintaan maaf yang tidak perlu banyak kata untuk dipahami maknanya.

Selama pertemuan berlangsung, Taufik mengaku sempat berbalik badan. Bukan karena tidak peduli, melainkan justru sebaliknya. Ia terlalu terharu. Ia tidak ingin larut dalam suasana, karena bagaimanapun ia tetap seorang petugas yang harus menjaga kendali situasi.

“Kalau saya benar-benar memandangi mereka terlalu lama, mungkin saya juga bisa menangis saat itu,” akunya jujur. “Itu sebabnya saya berbalik, supaya bisa menenangkan diri sebentar.”

Saat waktu kunjungan hampir habis, Taufik kembali dihadapkan pada tugas yang terasa berat. Ia harus menyudahi pertemuan itu. Sang anak masih duduk di pangkuan ayahnya. Matanya merah, namun bibirnya masih tersenyum. Taufik tidak bisa langsung berkata bahwa waktu telah usai.



Follow Widget