JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Pemerintah membuka pintu pendidikan selebar-lebarnya bagi anak-anak dari keluarga paling rentan di Indonesia. Bukan sekadar program beasiswa, Sekolah Rakyat dirancang sebagai sistem penyelamatan generasi — memutus rantai kemiskinan yang telah berlangsung turun-temurun.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa tidak ada celah bagi praktik titipan dalam program ini. Proses seleksi dilakukan langsung di lapangan: tim pemerintah mendatangi rumah calon siswa untuk memverifikasi kondisi nyata keluarga mereka. Hanya anak-anak dari keluarga miskin kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang berhak masuk.

“Tidak ada titipan. Tim akan datang langsung mengecek kondisi keluarga calon siswa. Jadi benar-benar untuk keluarga miskin,” kata Agus Jabo dalam keterangannya, Sabtu, 23 Mei 2026.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Dalam sistem seleksi yang diterapkan, verifikasi lapangan menjadi kunci agar program tidak meleset dari sasaran. Pemerintah sadar bahwa program sosial sebelumnya kerap gagal karena mekanisme seleksi yang longgar.

Gagasan di balik Sekolah Rakyat bertumpu pada satu keyakinan sederhana: kemiskinan tidak boleh diwariskan. Presiden Prabowo Subianto, yang menginisiasi program ini, menginginkan negara hadir langsung dalam kehidupan anak-anak yang sejak lahir sudah menghadapi keterbatasan.

“Tujuan Sekolah Rakyat itu dimaksudkan Presiden untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi. Kalau keluarganya miskin, anaknya kita ambil, negara sekolahkan,” ujar Agus.

Konsep yang diusung adalah boarding school atau sekolah berasrama. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Bagi banyak anak dari keluarga miskin, pulang ke rumah berarti kembali ke lingkungan dengan sanitasi buruk, asupan gizi yang tidak tercukupi, dan suasana yang jauh dari kondusif untuk belajar.

“Kalau sekolah reguler, setelah pulang mereka kembali ke lingkungan yang sanitasinya kurang baik, gizinya kurang, dan itu mempengaruhi perkembangan anak. Karena itu dibuat boarding supaya anak-anak ini benar-benar mendapatkan perhatian penuh,” jelas Agus.

Dengan sistem asrama, negara mengambil alih tanggung jawab atas seluruh aspek kehidupan sehari-hari siswa. Pendidikan, karakter, gizi, dan lingkungan — semuanya dikelola dalam satu ekosistem yang terkontrol.

Fasilitas yang diterima siswa pun jauh dari kesan seadanya. Seragam, tempat tinggal, tiga kali makan sehari, laptop, hingga perlengkapan sekolah — semuanya disediakan secara gratis oleh negara. Presiden Prabowo menegaskan bahwa anak-anak dari keluarga miskin berhak mendapatkan fasilitas terbaik, bukan fasilitas yang sekadar layak.

Hingga kini, 166 titik Sekolah Rakyat telah beroperasi di berbagai penjuru Indonesia. Pencapaian ini bahkan melampaui target awal yang ditetapkan Presiden, yakni 100 sekolah pada tahun pertama program berjalan.

Untuk sementara, pemerintah memanfaatkan berbagai aset negara yang sudah tersedia: sentra dan balai milik Kementerian Sosial, gedung kementerian lain, serta aset pemerintah daerah. Fasilitas-fasilitas itu digunakan sambil menunggu pembangunan gedung sekolah permanen yang sedang dipersiapkan.

Yang membedakan Sekolah Rakyat dari program pendidikan lainnya bukan hanya soal fasilitas, melainkan pendekatannya yang menyeluruh. Pemerintah tidak hanya merawat anak-anak di dalam asrama — mereka juga menyiapkan program pemberdayaan bagi orang tua siswa yang ditinggalkan di rumah.

Kementerian Sosial bersama kementerian dan lembaga terkait akan memberikan pelatihan keterampilan kerja, bantuan usaha kecil, hingga perbaikan rumah tidak layak huni. Tidak ada satu sisi pun dari lingkaran kemiskinan yang dibiarkan tak tersentuh.

“Anaknya disekolahkan, orang tuanya diberdayakan, rumahnya diperbaiki. Jadi penanganannya menyeluruh,” kata Agus.

Pendekatan holistik semacam ini mencerminkan perubahan paradigma dalam kebijakan sosial Indonesia. Jika dulu bantuan sosial cenderung bersifat konsumtif — memberikan uang atau barang tanpa membangun kapasitas — Sekolah Rakyat mencoba membangun fondasi yang lebih permanen.

Dampaknya sudah mulai terasa meski program ini baru berjalan. Agus mengisahkan bagaimana anak-anak yang sebelumnya minder dan tidak berani berbicara di depan umum, kini mulai tumbuh kepercayaan dirinya. Mereka mulai berani bermimpi — sesuatu yang sebelumnya terasa mewah bagi mereka.

“Yang tadinya tidak percaya diri, sekarang mulai berani bicara di depan umum, mulai punya cita-cita. Itu yang paling penting,” tutup Agus.

Di balik angka dan target program, ada sesuatu yang lebih berharga yang sedang dibangun: harapan. Dan bagi anak-anak yang selama ini tumbuh tanpa cita-cita, harapan adalah modal paling besar yang bisa diberikan negara.

FAQ

Apa itu Sekolah Rakyat dan siapa yang berhak mendaftar? Sekolah Rakyat adalah program pendidikan berasrama gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Seleksi dilakukan melalui verifikasi langsung ke rumah calon siswa.

Fasilitas apa saja yang didapatkan siswa Sekolah Rakyat? Siswa mendapatkan pendidikan gratis, tempat tinggal asrama, makan tiga kali sehari, seragam, laptop, dan perlengkapan sekolah lainnya — semua ditanggung penuh oleh negara tanpa biaya apapun.

Apakah ada program untuk orang tua siswa Sekolah Rakyat? Ya. Pemerintah juga menyiapkan program pemberdayaan bagi orang tua siswa, meliputi pelatihan keterampilan kerja, bantuan usaha, dan perbaikan rumah tidak layak huni, sehingga penanganan kemiskinan dilakukan secara menyeluruh.