“Melalui pertemuan silaturahmi ini juga sekaligus untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan dalam berkomunikasi yang efektif, baik dalam berorganisasi maupun kehidupan sehari-hari,” ujarnya di hadapan para pengurus yang hadir.
Pesan itu terasa relevan, mengingat DWP bukan organisasi yang berdiri di ruang hampa. Ia menyebutkan bahwa DWP Sulsel memiliki tanggung jawab yang lebih luas dari sekadar urusan internal. Organisasi ini diharapkan menjadi mitra nyata pemerintah provinsi dalam menjalankan berbagai program pembangunan, sebuah fungsi yang kerap terlupakan di tengah kesibukan agenda-agenda seremonial.
Andi Hikmawati menyerukan kekompakan sebagai nilai utama yang harus dijaga. Dalam pandangannya, kolaborasi antar pengurus dan anggota bukan sekadar retorika, melainkan syarat mutlak agar organisasi ini tetap hidup dan relevan. Tanpa itu, DWP hanya akan menjadi nama di papan kegiatan tanpa dampak yang bisa dirasakan masyarakat.
Yang menarik, Andi Hikmawati juga menyentuh satu isu yang dekat dengan kehidupan sebagian besar anggotanya: bagaimana menyeimbangkan peran sebagai istri dan sebagai perempuan yang aktif di dunia profesional. Ini bukan sekadar basa-basi. Sebagai perwira TNI yang kini juga mengemban tanggung jawab organisasi sosial, ia berbicara dari pengalaman langsung.
Menurutnya, keseimbangan antara peran domestik dan profesional adalah kunci agar DWP tetap solid, aktif, dan memberikan manfaat nyata. Ia percaya bahwa perempuan yang mampu mengelola kedua peran itu dengan baik akan menjadi aset berharga, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi organisasi dan masyarakat.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.