Namun di balik aroma yang menenangkan itu, suasana di ruang rapat tidak setenang yang dibayangkan.
Sekitar awal 2010-an, hubungan antara pemilik merek di Malaysia dan pengelola lisensi lokal di Indonesia mulai menemui kebuntuan. Ini adalah skenario klasik dalam dunia waralaba: pihak operator merasa visinya sudah melampaui batas-batas yang ditetapkan kontrak, sementara pemilik nama berpegang pada aturan yang mungkin terasa kaku di tengah pasar yang bergerak cepat.
Alih-alih mengalah, pihak lokal memilih langkah berani. Pada 2012, sebuah operasi senyap dijalankan. Gerai-gerai yang selama bertahun-tahun menampilkan logo anak laki-laki berganti wajah menjadi lingkaran besar dengan huruf O yang mencolok. Nama baru lahir: Roti’O.
Yang membuat langkah ini luar biasa adalah apa yang tidak berubah. Karyawannya tetap orang yang sama. Oven-oven itu masih mengepulkan uap yang sama. Lokasi gerai tidak bergeser satu sentimeter pun. Rebranding ini tidak membutuhkan riset pasar baru atau pencarian titik strategis dari nol — karena semua infrastruktur loyalitas pelanggan sudah terbangun sebelumnya. Roti’O tinggal membuka pintunya dan membiarkan ingatan otot konsumen bekerja sendiri.
Sebagian besar pelanggan, ternyata, tidak terlalu peduli.





















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.