Untuk menjalankan kajian ini, pemerintah tidak bekerja sendirian. Sebuah tim gabungan akan segera dibentuk, melibatkan empat lembaga sekaligus: Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek); Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen); Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas); serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kolaborasi lintas kementerian ini dirancang agar kajian tidak hanya bersifat komparatif, tetapi juga menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat langsung diimplementasikan dalam penyusunan buku ajar baru.

Hasilnya pun akan hadir dalam dua bentuk sekaligus. Selain buku fisik yang selama ini dikenal, pemerintah akan menyediakan versi digital yang bisa diunduh dan terintegrasi dengan Papan Interaktif Digital (PID). Langkah ini dinilai penting untuk memperluas jangkauan buku ajar berkualitas, terutama ke daerah-daerah yang selama ini sulit mendapatkan buku dalam kondisi layak.

Integrasi digital dengan PID juga membuka peluang bagi guru untuk menyajikan materi secara lebih interaktif dan menarik. Di tengah tantangan literasi digital yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia, langkah ini bisa menjadi dorongan nyata bagi transformasi cara belajar di kelas.

Prasetyo menegaskan bahwa seluruh proses ini bermuara pada satu tujuan sederhana namun ambisius: memastikan setiap anak Indonesia — dari kota besar hingga pelosok daerah — mendapatkan buku ajar yang berkualitas, relevan, dan layak baca.



Follow Widget