Dari kunjungan lapangan itulah, Prabowo memberikan tiga arahan utama kepada jajarannya. Ketiganya menyentuh aspek yang selama ini kerap menjadi sorotan dunia pendidikan nasional.

Arahan pertama adalah memperkuat muatan nasionalisme dan kebangsaan dalam setiap buku ajar. Pemerintah ingin generasi muda tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga memiliki rasa cinta tanah air yang tertanam sejak dini melalui bahan bacaan mereka di sekolah.

Arahan kedua berfokus pada peningkatan kualitas buku ajar matematika. Matematika selama ini menjadi salah satu mata pelajaran dengan tingkat pemahaman rendah di kalangan siswa Indonesia, sebagaimana tercermin dalam berbagai survei dan asesmen internasional. Pemerintah ingin buku ajar mata pelajaran ini dirancang lebih sesuai dengan cara berpikir dan kebutuhan peserta didik Indonesia.

Arahan ketiga menyangkut bahasa Inggris — dan ini menjadi bagian yang paling menarik. Prasetyo menjelaskan bahwa konten buku bahasa Inggris di Indonesia tidak bisa begitu saja mengadopsi buku dari negara seperti Singapura yang dalam kehidupan sehari-harinya memang menggunakan bahasa Inggris. Indonesia memiliki konteks linguistik yang berbeda, sehingga pendekatan pengajaran dan isi materi pun harus disesuaikan.

“Contohnya, kemampuan berbahasa Inggris. Di antara beberapa negara yang memang kesehariannya menggunakan bahasa Inggris, dengan kita yang kesehariannya belum menggunakan bahasa Inggris, tentu bentuk maupun isi materi bukunya berbeda,” jelas Prasetyo.



Follow Widget